Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
DAERAH

Cerita Rakyat Belitung : Hikayat Raja Berekor

1780207165079
Ilustrasi Raja Berekor. Foto: JournalArta

Mendapat sayembara tersebut ke sembilan pembantu raja itu segera bermusyawarah. Salah satunya adalah pak Sikum. Orang tua ini sudah lama mengabdi pada kerajaan hingga ia tahu persis keadaan kerajaan. Setelah bermusyawarah, ke Sembilan orang ini pun akhirnya berhasil memecahkan teka teki tersebut. “DELIPAT KEMBANG DELIKOR “ berarti berarti empat orang dimakan waktu lohor ( siang ) dan “DELIMA KEMBANG DELIKAM” berarti lima orang di makan waktu malam.

Setelah berhasil memecahkan teka-teki tersebut tiba-tiba pak Sikum berteriak, “Kite harus ngadilek raje lalim itu

Tapi, lanjut dia ”kite ndak mungkin ngembunonye secare terang-terangen. Sebab die sakti, die juak kebal kan senjate tajam“.

Menghadapi kenyataan itu, semua yang hadir terdiam.

Namun, tiba-tiba Pak Sikum teringat sesuatu. ”De istana ne tersimpan duak buah alu sakti terbuat dari kayu simpor laki. Alu sakti itu la nok dapat ngembuno raje,” ujarnya setengah berteriak.

Untuk melaksanakan niatnya, Sembilan pembantu raja itu pun mencuri dua buah alu sakti tersebut. Lalu mereka menyusun rencana pembunuhan terhadap raja bengis itu. Disepakati waktunya saat mereka menghadap raja ketika batas waktu yang di berikan habis.

Batas waktu yang di terapkan raja pun tiba. Ke Sembilan pembantu raja datang menghadap. Namun dari singgasananya, raja merasa kejanggalan pada para pembantunya. Dua di antara mereka tidak membawa tombak seperti biasa tapi membawa alu. Hingga Raja Berekor menjadi agak sedikit curiga. Masih curiga, raja pun menanyakan apakah mereka sudah berhasil menjawab teka-teki yang di ajukannya dua hari lalu.

Pertanyaan raja itu, secara berpantun di jawab Perdana Mentri dengan membalikan teka-teki yang di ajukan: DELIPAT KEMBANG DELIKOR DELIPAT KEMBANG DELIKAM URANG LIMAK NGIBIT IKOR URANG EMPAT SERETE NIKAM.

Belum sempat raja bereaksi, pak Sikum langsung membalas pantun Perdana Mentri: SAK DUA DAUN SIMPOR KETIGE DAUN GENALU URANG LIMAK NGIBIT IKOR URANG DUA NGEMPOK KEN ALU.

Mendengar jawaban tersebut, sadarlah Raja Berekor bahwa pantun itu adalah siasat Sembilan para pembantunya untuk membunuhnya. Seketika murka lah Raja Berekor. Ia bangkit dari singgasananya hingga tanpa di sadari ekornya turut keluar dari lobang tempayan. Begitu melihat ekor sang raja keluar, serentak para pembantu raja itu menyerang. Lima orang memegangi ekor, empat lainya masing-masing dua orang memukul kepala raja bengis dan kejam itu dengan alu sakti dan menusuknya dengan keris.

Akibatnya seketika tubuh raja yang besar dan kekar itu pun tumbang bersimbah darah. Mayatnya oleh Sembilan pembantunya di hanyutkan ke sungai. Dengan begitu tamatlah riwayat Raja Berekor pemangsa manusia yang begitu bengis dan kejam itu.

*******************************************

Kayu simpor laki ini menurut kepercayaan orang Belitung sebagai penangkal binatang buas dan berbisa seperti harimau dan ular. Menurut cerita kesaktian simpor laki ini di dukung oleh pepatah lama di Belitung yang berbunyi: ALU SEGIOK GIONG SEGALE-GALE UBI SEKUCAK-SEKUCONG TENTONG KAYU BINGKOK, BINGKOK DEMAKAN API, ALU UKAN SEMBARANG ALU, ALU TEBUAT DARI SIMPOR LAKI SIFAT NOK BEIKOR, AMUN TEPELASA KAN SIMPOR LAKI TENTU MATI.

*******************************************

Sumber Cerita Hikayat Raja Berekor ini berasal dari Buku Cerita Kampung Rakyat Belitung oleh Bule Sahib, dan disadur dari https://bangkabelitungkite.blogspot.com.

Halaman:12345Semua Halaman

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda