Mendengar jawaban si juru masak, sang raja tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. Dalam hatinya terbayang mungkin darah manusia di campur daging manusia lebih enak rasanya. Hingga akhirnya muncul keinginan untuk memakan daging manusia.
Sesaat kemudian ia pun berkata kepada perdana mentri “Perdana Mentri, ngape kite ndak nyubak makan daging manusie sajak ?” Tanya raja lagi.
“Hamba ndak sampai ati tuanku,” jawab Perdana Mentri ketakutan.
Dijawab demikian, meledaklah kemarahan sang raja sambil menghunus pedang ia berteriak, “ Turutek perinta aku ! kaluk ndak kau nok aku buno “.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Perdana Mentri menuruti kehendak raja itu.
Membunuh manusia untuk dijadikan santapan raja. Korban pertamanya adalah juru masak. Rupanya dugaan raja bengis itu benar. Ketika menyantap daging sang juru masak ia nampak merasakan kenikmatan tiada tara. Sejak saat itu, setiap hari pasti ada rakyatnya yang di korbankan untuk di jadikan santapan raja pemakan manusia itu. Semua jenis dan tingkatan umur di coba. Anak-anak, orang dewasa, orang tua, laki-laki maupun perempuan. Malahan terkadang dalam sehari lebih dari satu orang yang menjadi korban.
Akibatnya, rakyat semakin takut. Kerajaan pun semakin sepi. Semua rakyat berdiam diri di rumah menghindar agar tidak menjadi santapan raja. Akhirnya, rakyat yang semula begitu banyak hari demi hari menjadi kian sedikit. Sementara para pembantu istana tak berdaya mengatasi tabiat buruk raja yang buas dan kejam itu. Satu saat, tanpa di ketahui para hulu baling istana rakyat melarikan diri ke daerah Belantu, Sijuk, Buding dan daerah lainya. Sedangkan yang belum melarikan diri dan jumlahnya sangat sedikit, kemudian mendapat giliran menjadi santapan raja. Hingga akhirnya yang tertinggal hanya Sembilan orang pembantu raja saja.
Mengetahui rakyatnya sudah tak ada lagi di kerajaan, Raja Berekor pun menjadi gelisah dan menanyakannya kepada Sembilan pembantunya. Oleh mereka dijawab bahwa rakyat telah habis dijadikan santapan raja. Karena haus dengan darah dan daging manusia, raja pun bermaksud memakan ke Sembilan pembantunya yang masih tersisa di istana. Namun bagaimana caranya? Segeralah raja bengis ini memanggil ke Sembilan pembantunya dan mengadakan sayembara yang terdiri dari dua buah teka teki berbunyi : “DELIPAT KEMBANG DELIKOR, DELIMA KEMBANG DELIKAM” Barang siape ndak dapat ngenjawabnye, kan aku buno. Untuk itu mikak kuberik waktu duak ari untuk ngenjawabnye,” ungkap raja.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.