Minggu, 19 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Juan Manuel Santos Refleksikan Perdamaian Kolombia 10 Tahun Pascaperjanjian FARC

Mantan Presiden Kolombia Juan Manuel Santos dalam sesi wawancara membahas proses perdamaian nasional
Foto: File:Luiz Inacio Lula da Silva and Juan Manuel Santos.jpg: Image Luiz Inacio Lula da Silva and Juan Manuel Santos (Wilson Dias/ABr) derivative work: Coronades (talk) / Wikimedia Commons (CC BY 3.0 br)

Perlindungan terhadap aktivis dan pemimpin sosial menjadi krusial dalam periode pasca-konflik. Mereka adalah agen perubahan yang mendorong implementasi perjanjian di tingkat lokal. Kegagalan melindungi mereka tidak hanya merupakan tragedi kemanusiaan. Kegagalan ini juga merusak fondasi perdamaian itu sendiri.

Santos mengakui bahwa narasi politik memainkan peran besar dalam kesuksesan atau kegagalan perdamaian. Kelompok yang menolak rekonsiliasi berhasil memobilisasi sentimen publik melawan perjanjian. Pendukung perdamaian perlu strategi komunikasi yang lebih efektif. Mereka harus menjelaskan manfaat jangka panjang dari proses yang sulit ini.

Prospek Masa Depan Perdamaian Kolombia

Meskipun mengakui kegagalan dalam beberapa aspek, Santos tetap optimis bahwa proses perdamaian tidak dapat dibalik sepenuhnya. Perjanjian 2016 telah menciptakan kerangka kerja institusional yang penting. JEP, Komisi Kebenaran, dan Unit Pencarian Orang Hilang adalah lembaga yang telah mapan. Mereka terus beroperasi meskipun menghadapi tantangan politik dan finansial.

Presiden saat ini, Gustavo Petro, yang menjabat sejak 2022, adalah presiden sayap kiri pertama Kolombia. Petro sendiri adalah mantan anggota gerakan gerilyawan M-19 yang berubah menjadi partai politik. Pemerintahannya telah menghidupkan kembali komitmen terhadap implementasi perjanjian perdamaian. Petro juga memulai dialog dengan kelompok bersenjata lainnya termasuk ELN.

Namun tantangan tetap besar. Ekonomi narkoba yang mengakar dalam menjadi penghalang utama. Selama permintaan kokain global tetap tinggi, kelompok bersenjata akan terus memiliki sumber pendanaan. Program substitusi tanaman koka menghadapi resistensi dari petani yang tidak melihat alternatif ekonomi yang layak.

Komunitas internasional masih memberikan dukungan, meskipun dengan tingkat yang bervariasi. Uni Eropa, Norwegia, dan beberapa negara lain tetap berkomitmen mendukung implementasi perjanjian. Namun dukungan finansial tidak selalu mencapai komunitas yang paling membutuhkan karena hambatan birokrasi dan korupsi.

Santos menyerukan komitmen jangka panjang dari semua pihak. “Perdamaian adalah proses generasional, bukan proyek beberapa tahun,” tegasnya dalam wawancara dengan Al Jazeera. Ia menekankan bahwa generasi muda Kolombia perlu dibekali dengan pendidikan tentang sejarah konflik. Mereka juga perlu diberdayakan sebagai agen perdamaian di komunitas mereka.

Refleksi kritis Santos tentang proses perdamaian Kolombia menunjukkan kejujuran intelektual yang jarang. Ia tidak menyangkal kegagalan atau meremehkan tantangan yang tersisa. Namun ia juga tidak kehilangan harapan bahwa Kolombia dapat belajar dari kesalahan dan membangun perdamaian yang lebih berkelanjutan.

Sepuluh tahun setelah perjanjian bersejarah, Kolombia berada di persimpangan jalan. Negara ini dapat memilih untuk memperkuat komitmen terhadap perdamaian atau membiarkan warisan konflik kembali mendominasi. Pilihan ini tidak hanya akan menentukan masa depan Kolombia, tetapi juga memberikan pelajaran bagi proses perdamaian di seluruh dunia.

Halaman:1234Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda