Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Erin Brockovich Ungkap 3 Skandal Tersembunyi Data Center AS

Erin Brockovich mengkritik kerahasiaan operasional fasilitas data center industri teknologi Amerika
(Ilustrasi: AI)

Aktivis lingkungan legendaris Erin Brockovich, yang namanya menjadi sinonim perjuangan melawan pencemaran korporat sejak kemenangan hukumnya yang ikonik pada 1990-an, kini membuka front baru dalam kampanye lingkungannya. Target kali ini: industri data center yang berkembang eksplosif di Amerika Serikat namun beroperasi di balik tirai kerahasiaan yang nyaris impenetrabel.

Pergeseran fokus Brockovich ke sektor teknologi digital ini menandai momen krusial dalam debat publik tentang dampak lingkungan dari infrastruktur digital yang selama ini jarang tersentuh sorotan. Dalam era di mana kecerdasan buatan dan komputasi awan menjadi tulang punggung ekonomi digital, fasilitas-fasilitas raksasa yang menampung server tersebut mengonsumsi air dan energi dalam skala yang mengejutkan—namun sebagian besar publik tidak tahu berapa banyak, di mana, dan dengan dampak apa.

Kampanye baru Brockovich berfokus pada satu pertanyaan fundamental: mengapa perusahaan-perusahaan teknologi yang mengklaim komitmen terhadap keberlanjutan menolak mengungkap data konsumsi sumber daya publik mereka secara transparan?

Dari Pacific Gas & Electric ke Silicon Valley: Kontinuitas Perjuangan

Nama Erin Brockovich menjadi ikon aktivisme lingkungan setelah memenangkan gugatan class action senilai $333 juta terhadap Pacific Gas & Electric Company (PG&E) pada 1996. Kasus tersebut mengungkap kontaminasi air tanah dengan kromium heksavalen di Hinkley, California, yang menyebabkan penyakit serius pada ratusan penduduk. Kisahnya kemudian diabadikan dalam film Hollywood tahun 2000 yang dibintangi Julia Roberts.

Kini, lebih dari dua dekade kemudian, Brockovich mengidentifikasi pola serupa dalam industri data center: korporasi besar menggunakan sumber daya publik—air dan energi—dalam jumlah masif, namun informasi tentang dampaknya dijaga ketat sebagai rahasia bisnis. Bedanya, kali ini ancamannya bukan polutan kimia, melainkan kelangkaan sumber daya yang dipicu oleh konsumsi tersembunyi.

Data center adalah fasilitas yang menampung ribuan hingga jutaan server untuk menyimpan dan memproses data digital. Fasilitas ini membutuhkan pendinginan konstan—umumnya menggunakan air dalam jumlah sangat besar—serta pasokan listrik yang setara dengan konsumsi kota berukuran sedang. Namun, sebagian besar operator data center, termasuk raksasa teknologi seperti Amazon Web Services, Microsoft Azure, dan Google Cloud, tidak mempublikasikan secara terperinci berapa banyak air dan energi yang mereka konsumsi per lokasi.

Halaman:1234Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda