Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Dolar Nyaris Rp18.000, BI Akhirnya Buka Suara soal Rupiah

Ilustrasi perbandingan mata uang rupiah dan dolar AS di meja trading finansial
(Ilustrasi: AI)

Kebijakan ini bertujuan membatasi transaksi spekulatif dan memastikan transaksi valas dilakukan dengan underlying ekonomi yang jelas—mencegah pembelian dolar untuk keperluan spekulasi semata. Langkah ini merupakan bagian dari strategi makroprudensial BI untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar tanpa harus menaikkan suku bunga acuan secara agresif.

Selain itu, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Hingga kini, kerja sama LCT telah terjalin dengan enam negara: Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

“Upaya ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar,” jelas Denny. LCT memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi dilakukan dalam mata uang lokal masing-masing negara, mengurangi eksposur terhadap fluktuasi dolar dan biaya hedging yang tinggi bagi pelaku usaha.

Koordinasi Lintas Lembaga untuk Stabilitas

BI menyadari stabilitas nilai tukar bukan tanggung jawab tunggal bank sentral. Ramdan menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional.

“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional,” tegasnya.

Koordinasi dengan pemerintah mencakup sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter, termasuk pengelolaan utang luar negeri dan optimalisasi penerimaan devisa dari sektor ekspor. Sementara koordinasi dengan OJK berfokus pada stabilitas sistem keuangan dan pengawasan terhadap eksposur valuta asing lembaga keuangan.

Perbankan, sebagai garda terdepan transaksi valas, diminta untuk menerapkan manajemen risiko yang ketat dan tidak melakukan transaksi spekulatif yang dapat memperburuk volatilitas. Dunia usaha, khususnya eksportir, diharapkan dapat segera melepas hasil ekspor mereka (repatriasi) untuk menambah pasokan dolar di pasar domestik.

Dampak terhadap Ekonomi dan Publik

Pelemahan rupiah memiliki implikasi luas terhadap ekonomi domestik. Bagi konsumen, nilai tukar yang melemah berarti harga barang impor—mulai dari elektronik, bahan baku industri, hingga bahan pangan—cenderung naik. Hal ini dapat memicu tekanan inflasi, yang pada gilirannya mempengaruhi daya beli masyarakat.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda