Rabu, 22 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

BI Dapat Mandat Ganda, Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Suasana sidang paripurna DPR RI mengesahkan revisi UU P2SK di gedung parlemen
Foto: Kementerian Keuangan Republik Indonesia / Wikimedia Commons (Public domain)

Data pasar obligasi pemerintah juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 5 basis poin (bps) ke level 6,75% pada Kamis (4/6), sehingga total kenaikan sejak awal 2026 mencapai lebih dari 60 bps. Sementara itu, yield obligasi tenor 5 tahun naik 8 bps ke 6,82%, dengan akumulasi kenaikan mencapai 135 bps sejak Januari 2026.

Kenaikan yield obligasi mencerminkan persepsi risiko yang meningkat di kalangan investor. Ketika yield naik, harga obligasi turun, yang menunjukkan bahwa investor menuntut imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi risiko memegang aset Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik.

Kekhawatiran Independensi BI dan Kredibilitas Kebijakan

Reuters menyoroti kekhawatiran mengenai independensi Bank Indonesia terkait dengan kewenangan baru DPR untuk mengevaluasi kinerja bank sentral. Independensi bank sentral secara internasional dianggap sebagai prinsip penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter, karena memungkinkan bank sentral mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan ekonomi murni tanpa tekanan politik jangka pendek.

Bloomberg mencatat bahwa pasar tengah mencermati kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia. Kombinasi antara pelemahan rupiah, penurunan IHSG, dan arus keluar dana asing mencerminkan keraguan investor terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah. Revisi UU P2SK yang menambah peran DPR dalam mengawasi BI dapat menambah lapisan kompleksitas dalam persepsi investor terhadap independensi pengambilan keputusan moneter di Indonesia.

Narasi ‘Serangan Asing’ versus Faktor Fundamental Domestik

Di tengah tekanan pasar, narasi tentang serangan spekulan asing atau faktor eksternal sering kali muncul sebagai penjelasan yang mudah diterima publik. Namun, analis pasar menekankan bahwa kondisi ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor internal seperti ketergantungan impor energi, tekanan fiskal, defisit anggaran, kualitas kebijakan, dan tingkat kepercayaan investor terhadap tata kelola ekonomi.

Seperti yang disampaikan dalam analisis pasar oleh pengamat Stockbit, “rakyat kecil tidak peduli apakah yang disalahkan Soros, Singapura, antek aseng, atau pasar global. Mereka merasakan harga tahu-tempe kalau kedelai impor naik.” Pernyataan ini menyoroti bahwa dampak ekonomi riil dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, terlepas dari perdebatan mengenai penyebab eksternal atau internal.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda