Rabu, 22 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

4 Krisis Penyebab IHSG Anjlok ke Level Terendah Sejak 2020

Layar digital bursa saham Indonesia menunjukkan grafik penurunan IHSG tajam dengan suasana tegang
(Ilustrasi: AI)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menyentuh titik kritis pada awal Juni 2026, merosot ke level terendah sejak 1 Desember 2020. Penurunan ini bukan sekadar anomali statistik harian, melainkan cerminan akumulatif dari empat krisis besar yang melanda pasar modal Indonesia sepanjang periode 2020-2026. Koreksi tajam yang terjadi membawa IHSG kembali ke zona psikologis yang belum terlihat dalam hampir empat setengah tahun terakhir.

Para analis pasar modal melihat penurunan kali ini sebagai hasil dari kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling berinteraksi. Ketidakpastian ekonomi global, gejolak geopolitik kawasan, serta dinamika kebijakan moneter domestik menciptakan tekanan berlapis terhadap kinerja indeks saham. Perjalanan IHSG dalam periode ini mencatat empat episode krisis signifikan yang masing-masing meninggalkan jejak koreksi mendalam.

Empat Krisis yang Membentuk Perjalanan IHSG

Krisis pertama yang melanda adalah pandemi COVID-19 yang dimulai pada awal 2020. IHSG mengalami koreksi tajam hingga menyentuh level 3.937 pada Maret 2020, level terendah dalam dekade terakhir saat itu. Penutupan ekonomi global, lockdown massal, dan ketidakpastian kesehatan publik memicu pelarian modal asing secara masif dari pasar berkembang, termasuk Indonesia. Pemulihan baru dimulai bertahap pada akhir 2020, ketika IHSG perlahan merangkak kembali ke zona 6.000-an pada Desember 2020.

Krisis kedua muncul pada 2022 dengan eskalasi konflik Rusia-Ukraina yang memicu kenaikan harga komoditas energi dan pangan global. Meskipun Indonesia sempat diuntungkan sebagai eksportir komoditas, tekanan inflasi global dan kenaikan suku bunga The Federal Reserve AS menciptakan sentimen negatif terhadap pasar modal emerging markets. IHSG terkoreksi kembali, meski tidak sedalam krisis pandemi, namun volatilitas tinggi menandai perdagangan sepanjang tahun tersebut.

Krisis ketiga terjadi pada pertengahan 2023-2024, ketika krisis perbankan regional di Amerika Serikat—dimulai dengan kolapsnya Silicon Valley Bank—memicu kepanikan sistemik di pasar keuangan global. Kekhawatiran terhadap stabilitas sistem perbankan internasional menyebar ke pasar Asia, termasuk Indonesia. Meskipun perbankan domestik relatif stabil, sentimen risk-off global mendorong investor asing mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham Indonesia.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda