Rabu, 22 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

4 Krisis Penyebab IHSG Anjlok ke Level Terendah Sejak 2020

Layar digital bursa saham Indonesia menunjukkan grafik penurunan IHSG tajam dengan suasana tegang
(Ilustrasi: AI)

Krisis keempat yang masih berlangsung hingga kini adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dan ketidakpastian pasokan energi global. Eskalasi konflik di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya menciptakan premi risiko geopolitik yang tinggi. Investor global kembali bergerak ke aset safe haven seperti obligasi pemerintah AS dan emas, meninggalkan pasar saham negara berkembang dalam tekanan jual.

Dinamika Pelaku Pasar dan Sentimen Investor

Sepanjang periode krisis ini, perilaku investor asing menjadi faktor dominan dalam pergerakan IHSG. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan tren net sell (penjualan bersih) investor asing yang konsisten sejak awal 2026, dengan akumulasi outflow mencapai ratusan triliun rupiah dalam beberapa bulan terakhir. Pelarian modal ini didorong oleh kombinasi faktor: yield obligasi AS yang menarik, penguatan dolar AS, serta persepsi risiko geopolitik regional yang meningkat.

Investor domestik, baik institusional maupun ritel, belum mampu sepenuhnya mengkompensasi tekanan jual asing. Meskipun terdapat aksi beli sporadis dari dana pensiun dan manajer investasi lokal, volume dan nilai transaksi yang relatif kecil tidak cukup untuk menahan laju penurunan indeks. Sentimen wait and see mendominasi kalangan investor domestik, yang memilih menahan likuiditas sembari menunggu katalis positif yang lebih jelas.

Kondisi ini diperparah oleh faktor teknikal. Level support psikologis IHSG di zona 6.800-6.900 telah ditembus, membuka ruang koreksi lebih lanjut ke zona 6.500-6.600. Analis teknikal memperingatkan bahwa jika level ini tidak bertahan, potensi penurunan ke zona 6.300—mendekati level Desember 2020—menjadi skenario realistis dalam jangka pendek.

Respons Kebijakan dan Pandangan Regulator

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia telah menyatakan bahwa penurunan IHSG saat ini lebih banyak didorong oleh faktor eksternal dan sentimen global ketimbang fundamental ekonomi domestik. Dalam beberapa pernyataan resmi, OJK menegaskan bahwa fundamental emiten di BEI secara umum masih solid, dengan sebagian besar perusahaan tercatat masih membukukan pertumbuhan laba dan menjaga rasio kesehatan keuangan.

Bank Indonesia (BI) juga telah mengambil langkah antisipatif dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar. Meskipun belum mengubah suku bunga acuan, BI menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan jika tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan meningkat. Koordinasi antara BI, OJK, dan Kementerian Keuangan diperkuat untuk memastikan stabilitas sistem keuangan nasional.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda