Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
INDUSTRI

Cofiring Biomassa Kurangi 2,57 Juta Ton CO₂ di 52 PLTU

Cofiring Biomassa Kurangi 2,57 Juta Ton CO₂ di 52 PLTU
Ilustrasi PLTU Suralaya. (Ilustrasi: AI)

Salah satu keunggulan yang kerap luput dari perhatian: cofiring tidak bergantung pada cuaca. Berbeda dengan tenaga surya atau angin, pembangkit berbasis cofiring tetap beroperasi stabil sepanjang waktu dan faktor krusial untuk menjaga keandalan pasokan listrik nasional.

Limbah perkebunan dan sawit yang selama ini terbuang kini punya nilai ekonomi. Proses pembusukan limbah organik sendiri menghasilkan metana serta gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dari CO₂. Mengolahnya menjadi bahan bakar berarti memutus dua sumber emisi sekaligus.

Program ini juga mendongkrak porsi energi baru terbarukan (EBT) sekitar 1,8%, bagian dari perjalanan panjang menuju target bauran EBT 23% dan netral karbon pada 2060.

Hambatan yang Belum Selesai

Implementasi di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala nyata. Biomassa tersebar di wilayah luas dan membutuhkan sistem pengumpulan terorganisir. Kualitas bahan baku pun harus dijaga dan perlu diolah menjadi pelet dengan nilai kalor yang stabil agar efisiensi pembakaran terjaga. Biaya logistik dari daerah produksi ke lokasi PLTU juga masih menjadi beban.

Pemerintah menjawab tantangan itu dengan beberapa langkah konkret: menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pelet biomassa, membangun sentra pengolahan di daerah penghasil limbah, menjamin harga beli tetap dari PLN selama 15 tahun, serta mengembangkan rantai pasok yang melibatkan koperasi dan petani lokal.

Ke depan, pemerintah menargetkan rasio pencampuran biomassa ditingkatkan hingga 20–30% seiring kesiapan infrastruktur dan ketersediaan pasokan yang semakin luas. Cofiring bukan solusi akhir, tapi jembatan paling realistis yang dimiliki Indonesia untuk memangkas emisi tanpa memadamkan lampu.

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda