Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Pilpres Kolombia Sengit, Ivan Cepeda dan De la Espriella Berebut Suara

Proses pemungutan suara dalam Pilpres Kolombia putaran kedua yang berlangsung ketat
Pemilihan presiden putaran kedua di Kolombia mempertemukan Ivan Cepeda dan Abelardo de la Espriella di tengah bayang-bayang ketakutan warga. (Ilustrasi: AI)

Ketakutan Menyelimuti Tempat Pemungutan Suara

Polarisasi tajam ini memicu kecemasan mendalam di kalangan akar rumput. Polarisasi bukan lagi sekadar debat politik, melainkan ketakutan nyata akan konflik fisik di jalanan.

“Saat ini yang paling saya khawatirkan adalah polarisasi di antara kita, ada dua kubu yang sangat ekstrem dan potensi kekerasannya sangat mencemaskan,” ujar John Manrique, seorang pengacara di Bogota kepada kantor berita AFP.

Kekhawatiran senada diungkapkan oleh Alex Vizcaino, warga berusia 59 tahun yang memberikan suaranya di kota pesisir Barranquilla. Ia merasakan ada atmosfer yang berbeda pada pemilu kali ini.

“Ini adalah pemilu pertama di mana Anda bisa merasakan ada sedikit rasa takut. Terlalu banyak fanatisme di luar sana,” kata Vizcaino.

Pada putaran pertama, persaingan kedua kandidat memang berjalan sangat ketat seperti terlihat pada data berikut:

Kandidat Haluan Politik Persentase Suara Putaran I
Abelardo de la Espriella Sayap Kanan 44%
Ivan Cepeda Sayap Kiri 41%

Ketegangan kian memuncak setelah Presiden Gustavo Petro sempat mempertanyakan keabsahan hasil putaran pertama tanpa bukti yang kuat, menyusul kekalahan tipis Cepeda yang sebelumnya selalu unggul dalam berbagai jajak pendapat resmi.

Kembalinya Gelombang Pembunuhan Kartel

Pemilu ini digelar tepat sepuluh tahun setelah Kolombia menandatangani perjanjian damai bersejarah dengan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC). Sayangnya, harapan perdamaian itu perlahan sirna setelah faksi-faksi pemberontak pecah dan beralih menjadi sindikat penyelundupan kokain.

Tahun lalu, otoritas keamanan Kolombia mencatat ada 14.780 kasus pembunuhan, angka tertinggi sejak tahun 2015. Salah satu korban tewas dalam rangkaian kekerasan tersebut adalah calon presiden konservatif, Miguel Uribe, yang tewas ditembak geng kriminal.

Kondisi keamanan yang terus memburuk ini membuat publik sangat menuntut kepemimpinan yang tegas, namun sekaligus cemas jika gesekan politik ini justru memicu perang saudara baru.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda