JAKARTA — Kecurangan akademik di Harvard kembali jadi bahan perbincangan setelah 47 persen dari 850 mahasiswa tingkat akhir yang disurvei Harvard Crimson mengaku pernah menyontek. Angka itu muncul dalam tulisan opini mahasiswa Harvard, Matthew Tobin, yang terbit pada Februari 2026 dan menegaskan satu hal: masalah ini tidak lahir karena kecerdasan buatan.
AI memang mempercepat cara menyalin dan memalsukan pekerjaan kuliah. Tapi akarnya jauh lebih tua. Di kampus-kampus Amerika, kebiasaan curang sudah terbentuk sejak bangku sekolah menengah. Berat. Dan terus dibawa masuk ke ruang kuliah.
Kecurangan akademik sudah ada sebelum AI
Dalam bahan yang dibahas penulis, seorang dosen bercerita soal percakapan dengan mahasiswa baru yang baru selesai tahun pertama kuliah. Saat ditanya berapa banyak yang pernah menyontek di SMA, sebagian besar tangan langsung terangkat. Mereka tampak tenang. Tidak malu. Tidak juga defensif.
Pola seperti itu bukan kejutan bagi para peneliti pendidikan. Eric Anderman, pakar psikologi pendidikan, pada 2018 menulis bahwa kecurangan akademik tersebar luas di sekolah menengah Amerika. Dalam satu studi nasional, 51 persen siswa mengaku pernah menyontek saat ujian. Studi lain pada 2020 menemukan 64 persen dari 70 ribu siswa SMA mengaku menyontek saat tes, 58 persen mengaku melakukan plagiarisme, dan sekitar 95 persen mengatakan pernah terlibat dalam setidaknya satu bentuk kecurangan, entah menyalin PR, plagiarisme, atau menyontek saat ujian.
Angka-angka itu bikin masalahnya terlihat jelas. Bukan kasus kecil. Bukan pula perilaku segelintir orang. Ini sudah jadi kebiasaan yang dinormalisasi.
Di sebuah SMA di Pennsylvania, 90 dari 100 responden survei sekolah pada 2018 mengaku pernah menyontek setidaknya sekali. Seorang responden bahkan menjawab singkat: “Semua orang menyontek.” Kalimat pendek. Tapi keras sekali bunyinya.
Mengapa mahasiswa menyontek
Tekanan jadi alasan paling sering muncul. Mahasiswa ingin nilai bagus, lolos ke kampus yang ketat, dan tetap terlihat unggul di depan keluarga, guru, atau calon pemberi beasiswa. Saat tugas terasa terlalu berat atau waktu tinggal sedikit, sebagian memilih jalan pintas.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.