JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Puasa Asyura jatuh pada 10 Muharram dan menjadi salah satu amalan sunnah yang paling dianjurkan dalam Islam. Niat puasa Asyura dibulatkan di hati pada malam hari, sebelum fajar terbit, dengan keutamaan yang dijanjikan menghapus dosa setahun yang lalu.
Puasa ini berdiri di bulan yang diagungkan. Muharram disebut Rasulullah sebagai bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadhan. Karena itu, banyak umat Islam menjadikannya rutinitas tahunan, lengkap dengan puasa pelengkap sehari sebelum atau sesudahnya.
Bagi yang ingin menjalankannya, ada beberapa hal yang perlu dipahami: bacaan niat, dalil keutamaan, hingga tata cara pelaksanaannya. Berikut rinciannya, merujuk hadis sahih dan panduan ibadah resmi.
Bacaan Niat Puasa Asyura
Niat adalah rukun utama setiap ibadah puasa. Untuk puasa Asyura, niat cukup dibulatkan dalam hati pada malam hari sebelum terbit fajar. Boleh juga dilafalkan sebagai penguat.
Teks Arab:
ููููููุชู ุตูููู ู ุนูุงุดููุฑูุงุกู ุณููููุฉู ููููููู ุชูุนูุงููู
Tulisan Latin: Nawaitu shauma ‘รขsyรปrรข’a sunnatan lillรขhi ta’รขlรข.
Artinya: “Saya berniat puasa Asyura, sunnah karena Allah Ta’ala.”
Disunnahkan melengkapinya dengan puasa Tasua (9 Muharram) atau sehari sesudahnya (11 Muharram). Tujuannya agar berbeda dengan cara beribadah Ahli Kitab.
Keutamaan Puasa Asyura yang Menghapus Dosa Setahun
Keutamaan paling masyhur dari puasa Asyura adalah menghapus dosa selama satu tahun. Ini bersandar pada sabda Nabi Muhammad SAW.
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu,” demikian hadis riwayat Muslim nomor 1162.
Para ulama menegaskan, dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar tetap memerlukan taubat nasuha secara khusus. Jadi puasa ini bukan pengganti taubat untuk kesalahan berat.
Keutamaan kedua, puasa Asyura termasuk amalan paling utama setelah Ramadhan. Rasulullah bersabda, “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim no. 1163).
Posisi Muharram sebagai bulan mulia membuat pahala puasa di dalamnya bernilai lebih. Asyura adalah puncaknya.
Mengenang Keselamatan Nabi Musa
Puasa Asyura juga punya akar sejarah panjang. Hari itu, menurut riwayat, adalah saat Nabi Musa dan kaumnya diselamatkan dari kejaran Firaun.
“Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di mana Nabi Musa dan kaumnya diselamatkan dari Firaun, maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu. Rasulullah juga berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa,” bunyi hadis riwayat Bukhari nomor 2004 dan Muslim nomor 1130.
Nabi kemudian menganjurkan agar puasa Asyura dilengkapi puasa di hari lain. “Jika kamu berpuasa satu hari sebelum atau sesudahnya, maka itu lebih utama. Namun jika tidak, maka berpuasalah pada hari Asyura saja,” demikian riwayat Thabrani yang dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani.
Maka pola yang dianjurkan: puasa Tasua dan Asyura, atau Asyura dan 11 Muharram. Bila tak sanggup, Asyura saja sudah cukup.
Tata Cara Pelaksanaan
Pelaksanaannya sama seperti puasa pada umumnya. Dimulai sejak terbit fajar shadiq hingga matahari terbenam.
Niat dilakukan pada malam hari, cukup di dalam hati. Hal-hal yang membatalkan juga sama: makan, minum, dan perkara lain yang lazim membatalkan puasa. Statusnya sunnah muakkadah alias sangat dianjurkan.
Sumber rujukan untuk amalan ini bukan main-main. Mulai dari Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim Kitab Al-Shiyam, Sunan Abu Dawud, Panduan Ibadah Kementerian Agama Republik Indonesia, hingga kitab Fiqh As-Siyam karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
Bagi umat Islam yang ingin meraih keutamaannya, kuncinya sederhana: pastikan niat sudah tertanam sebelum fajar. Sisanya tinggal menahan diri sampai magrib.
๐ Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.