Puasa Asyura juga punya akar sejarah panjang. Hari itu, menurut riwayat, adalah saat Nabi Musa dan kaumnya diselamatkan dari kejaran Firaun.
“Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di mana Nabi Musa dan kaumnya diselamatkan dari Firaun, maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu. Rasulullah juga berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa,” bunyi hadis riwayat Bukhari nomor 2004 dan Muslim nomor 1130.
Nabi kemudian menganjurkan agar puasa Asyura dilengkapi puasa di hari lain. “Jika kamu berpuasa satu hari sebelum atau sesudahnya, maka itu lebih utama. Namun jika tidak, maka berpuasalah pada hari Asyura saja,” demikian riwayat Thabrani yang dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani.
Maka pola yang dianjurkan: puasa Tasua dan Asyura, atau Asyura dan 11 Muharram. Bila tak sanggup, Asyura saja sudah cukup.
Tata Cara Pelaksanaan
Pelaksanaannya sama seperti puasa pada umumnya. Dimulai sejak terbit fajar shadiq hingga matahari terbenam.
Niat dilakukan pada malam hari, cukup di dalam hati. Hal-hal yang membatalkan juga sama: makan, minum, dan perkara lain yang lazim membatalkan puasa. Statusnya sunnah muakkadah alias sangat dianjurkan.
Sumber rujukan untuk amalan ini bukan main-main. Mulai dari Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim Kitab Al-Shiyam, Sunan Abu Dawud, Panduan Ibadah Kementerian Agama Republik Indonesia, hingga kitab Fiqh As-Siyam karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
Bagi umat Islam yang ingin meraih keutamaannya, kuncinya sederhana: pastikan niat sudah tertanam sebelum fajar. Sisanya tinggal menahan diri sampai magrib.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.