Ketegangan ini juga dipicu oleh aksi saling klaim terkait gangguan sinyal militer. Zelensky sebelumnya mengancam akan melumpuhkan stasiun relai sinyal di Belarus yang dituding membantu navigasi drone Rusia untuk menggempur Ukraina. Pekan ini, Zelensky mengeklaim stasiun-stasiun tersebut telah berhenti beroperasi, meski belum ada konfirmasi independen yang memvalidasi klaim tersebut.
Kremlin Bantah Tekan Belarus untuk Perluas Konflik
Sementara itu, Moskow langsung pasang badan membela sekutu terdekatnya. Istana Kremlin membantah keras laporan media Barat, Wall Street Journal, yang menyebut Rusia berencana menggunakan wilayah Belarus sebagai batu loncatan baru untuk meningkatkan serangan ke Ukraina.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa laporan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan realitas yang ada di lapangan. Peskov menyatakan bahwa hubungan bilateral kedua negara sangat solid dan Belarus tetap menjadi mitra strategis utama Rusia.
Menteri Pertahanan Belarus, Viktor Khrenin, justru menuding pihak Barat dan NATO yang sengaja memanaskan situasi di perbatasan mereka. Khrenin menyebut peningkatan anggaran militer negara tetangga dan retorika militeristik dari politisi Barat sebagai ancaman nyata.
“Upaya sedang dilakukan untuk memperpanjang, dan bahkan memperluas, konflik panas yang dilepaskan oleh Barat di Ukraina. Hari ini, kami sangat menyadari adanya upaya terang-terangan untuk menyeret Belarus ke dalam perang,” tegas Khrenin di hadapan para perwira militer yang baru lulus.
Walau Lukashenko belum mengirimkan tentaranya secara langsung ke medan tempur, ia sebelumnya mengizinkan wilayah Belarus digunakan Rusia sebagai jalur invasi darat pada tahun 2022. Belarus juga menampung rudal nuklir taktis Rusia dan rutin menggelar latihan militer bersama yang membuat negara-negara tetangga anggota NATO tetap dalam posisi siaga tinggi.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.