Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Bendung Kejahatan Siber, ABI Agresif Dorong Penguatan Literasi Digital

Forum literasi digital untuk membendung kejahatan siber di Jakarta
Literasi digital jadi senjata baru lawan kejahatan siber. (Ilustrasi: AI)

Daniel Apriandi, Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen OJK sekaligus Sekretariat Satgas PASTI, menyebut kelompok usia 25–49 tahun menjadi sasaran yang paling sering dibidik. Alasannya sederhana: mereka paling aktif bertransaksi digital, punya saldo, dan sering bergerak cepat tanpa verifikasi cukup.

“Scam dengan modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deep fake yang kini mampu meniru wajah, suara, dan bahasa tubuh korban secara sempurna,” ujar Daniel.

Ini yang membuat tema literasi digital terasa jauh lebih mendesak. Ancaman lama memang belum hilang, tapi kini dipadukan dengan alat baru yang jauh lebih meyakinkan. Pesan palsu bisa tampak seperti notifikasi resmi. Suara tiruan bisa terdengar akrab. Video palsu pun bisa memancing kepercayaan dalam sekejap.

Bagi pembaca, risikonya nyata. Satu klik ke tautan palsu, satu transfer ke rekening yang salah, atau satu unggahan data pribadi bisa membuka pintu ke pembobolan akun. Karena itu, OJK mendorong publik lebih kritis saat menerima informasi soal investasi, dompet digital, maupun permintaan verifikasi yang mencurigakan.

Pemprov DKI dan BSSN dorong kerja bareng lintas sektor

Pemprov DKI Jakarta ikut menggarisbawahi bahwa serangan siber sekarang sudah bergeser dari gangguan teknis menjadi manipulasi psikologis yang terstruktur. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi, menyebut ancaman ini menyentuh langsung perilaku pengguna.

“Atas nama Pemprov DKI Jakarta kami mengapresiasi yang setinggi-tingginya kepada BSSN yang secara konsisten mendorong terus peningkatan kesadaran budaya keamanan siber di Indonesia melalui berbagai program literasi dan kolaborasi lintas sektor,” kata Marulina.

Ia menegaskan, serangan siber hari ini tak lagi berhenti pada sistem yang down. Celahnya bisa masuk lewat social engineering, kebocoran data pribadi, sampai disinformasi yang sengaja disebar untuk membingungkan publik.

Dari sisi nasional, BSSN juga menyiapkan langkah jangka pendek untuk mempercepat pemahaman publik. Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro, menekankan bahwa upaya ini tak mungkin dikerjakan satu lembaga saja.

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda