Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Bendung Kejahatan Siber, ABI Agresif Dorong Penguatan Literasi Digital

Forum literasi digital untuk membendung kejahatan siber di Jakarta
Literasi digital jadi senjata baru lawan kejahatan siber. (Ilustrasi: AI)

“Diperlukan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, baik kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha, media, maupun masyarakat luas,” ujarnya.

Pendekatan itu masuk akal. Penipuan digital jarang berhenti di satu titik. Ia bergerak lintas platform, memanfaatkan celah manusia, lalu berpindah cepat ke kanal lain. Jadi, responsnya juga harus serempak: edukasi, pengawasan, pelaporan, dan penindakan.

Blockchain dan kripto tetap tumbuh, tapi keamanan jadi syarat

ABI melihat teknologi finansial berbasis blockchain dan aset kripto masih punya ruang tumbuh besar. Prospeknya terbuka. Minat publik pun belum surut. Tapi pertumbuhan tanpa perlindungan justru berisiko melahirkan kerugian baru yang sulit ditebus.

Karena itu, ABI menempatkan kepatuhan, keamanan siber, dan perlindungan konsumen sebagai pilar utama. Tiga hal ini saling terkait. Jika satu rapuh, kepercayaan publik ikut goyah. Dan kalau kepercayaan hilang, industri bisa melambat, meski teknologinya terus maju.

Di lapangan, kebiasaan sederhana masih jadi pembeda terbesar. Memeriksa alamat situs sebelum login. Mengaktifkan autentikasi dua faktor. Tidak membagikan OTP. Menahan diri sebelum menekan tautan dari pengirim tak dikenal. Hal-hal kecil seperti ini sering dianggap remeh, padahal justru paling sering menyelamatkan akun.

Bagi industri, pesan ABI dan BSSN cukup jelas: pertahanan digital tak bisa bertumpu pada perangkat lunak semata. Pengguna perlu paham cara kerja penipuan, regulator perlu menjaga pengawasan, dan perusahaan perlu terus membangun sistem yang aman sejak awal.

Ke depan, pola serangan kemungkinan tetap berubah mengikuti teknologi yang baru muncul. Karena itu, literasi digital tidak boleh berhenti sebagai kampanye sesaat. Ia harus jadi kebiasaan publik, juga ukuran sehat tidaknya ekosistem keuangan digital Indonesia.

Ringkasan singkat:

1. ABI mendorong penguatan literasi digital sebagai respons atas naiknya kejahatan siber di sektor keuangan digital.
2. OJK menilai kelompok usia 25–49 tahun paling sering jadi sasaran phishing, social engineering, dan penipuan berbasis AI.
3. BSSN, Pemprov DKI Jakarta, dan pelaku industri mendorong kolaborasi lintas sektor agar perlindungan konsumen lebih kuat.

FAQ singkat:
Apa ancaman paling menonjol saat ini? Phishing, social engineering, dan deep fake.
Siapa yang paling rentan? Pengguna aktif transaksi digital, terutama usia produktif.
Apa langkah paling dasar? Jangan bagikan OTP, cek alamat situs, dan aktifkan keamanan berlapis.

Ke depan, tantangannya bukan cuma menahan serangan yang sudah ada, melainkan menyiapkan publik agar lebih cepat mengenali pola baru yang datang berikutnya.

Halaman:123Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda