Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Keamanan Siber Jadi Prioritas Bisnis, ITSEC Asia dan BSSN Perkuat K…

Simulasi keamanan siber di ruang rapat organisasi
Keamanan siber jadi prioritas bisnis saat 5,16 miliar anomali terdeteksi. (Ilustrasi: AI)

Kalau perusahaan Anda belum punya rencana tanggap insiden yang jelas, sekarang waktu yang pas untuk merapikannya. Mulai dari daftar kontak darurat, prosedur pemutusan akses, cadangan data, sampai skenario komunikasi krisis. Hal-hal kecil seperti itu sering menyelamatkan organisasi saat situasi kacau.

Dalam konteks Indonesia, langkah kolaboratif antara ITSEC Asia, ADIGSI, dan ruang kebijakan siber yang diwakili BSSN menunjukkan satu arah yang sama: organisasi harus lebih siap sebelum insiden datang. Bukan setelah sistem terganggu. Bukan setelah data bocor. Terlambat kalau begitu.

Patrick menutup pesannya dengan nada yang cukup tegas. “Para pengambil keputusan juga perlu memahami bagaimana merespons situasi tersebut dengan cepat dan tepat,” ujarnya. Dan di dunia digital yang penuh serangan, cepat dan tepat memang sering jadi pembeda antara gangguan kecil dan krisis besar.

Ringkasan singkat:

1. BSSN mencatat 5,16 miliar anomali trafik siber sepanjang 2025.

2. ITSEC Asia dan ADIGSI menggelar simulasi krisis siber di Makassar untuk melatih pimpinan organisasi.

3. Fokus utama program ini adalah respons cepat, pemetaan risiko, dan kesiapan keputusan saat insiden digital terjadi.

FAQ singkat:

Apa inti program GNKS? Melatih pimpinan organisasi menghadapi krisis siber lewat simulasi keputusan nyata.

Mengapa ini penting? Karena dampak serangan siber bisa merusak operasional, layanan, dan reputasi sekaligus.

Siapa yang perlu peduli? Bukan hanya tim IT, tapi juga pimpinan perusahaan, institusi, dan pengambil keputusan.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda