Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Korban gempa Venezuela Tembus 1.430, Bantuan Dinilai Lamban

Korban gempa Venezuela di antara puing dan tim penyelamat
Korban gempa Venezuela menembus 1.430 jiwa. (Ilustrasi: AI)

CARACAS — Korban gempa Venezuela terus bertambah menjadi 1.430 orang tewas, sementara lebih dari 3.200 orang luka dan lebih dari 50.000 lainnya masih hilang setelah dua gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 mengguncang negara itu pada pekan ini. Di lapangan, tim penyelamat berpacu dengan waktu, tapi banyak keluarga sudah tak lagi mencari yang hidup.

Dampaknya terasa luas. Tragedi ini menghantam kawasan pesisir utara dekat Caracas, merusak bandara, memutus akses, dan memicu kemarahan warga yang menilai respons pemerintah terlalu lamban.

Korban gempa Venezuela naik saat masa emas pencarian tertutup

Para ahli kebencanaan menyebut 72 jam pertama setelah bencana sebagai jendela paling penting untuk menemukan korban yang masih hidup. Jendela itu kini lewat. Di banyak titik, pencarian berubah menjadi upaya menemukan jasad di bawah puing dan beton yang runtuh.

Di La Guaira, negara bagian pesisir yang paling parah terdampak di utara Caracas, suasana memburuk. Bau busuk menyengat, sirene ambulans terdengar tanpa henti, dan debu menempel di permukiman. Di bawah panas yang menyiksa, warga mulai mengenakan masker karena aroma pembusukan menyebar ke mana-mana.

“Kami yang menarik mereka keluar sendiri. Tidak ada bantuan yang datang,” kata seorang ibu kepada AFP setelah ia terpaksa membawa jenazah putrinya ke kamar jenazah di Caracas. Putrinya dan menantunya tewas tertimbun reruntuhan rumah mereka di La Guaira pada Rabu.

Karena pembusukan berjalan cepat, pasangan itu bahkan tidak sempat disemayamkan dengan layak. Cepat. Sangat cepat.

Kemarahan warga membesar di lokasi terdampak

Kemarahan terhadap pemerintah makin keras terdengar dari warga yang berjibaku di lokasi runtuhan. Mileidy Romero, salah satu warga yang mencari korban di Caraballeda, mengatakan ia melihat mayat bergelimpangan dan bayi-bayi yang belum dievakuasi.

“Pukul 8 malam masih ada orang hidup di bawah sana, dan mereka belum mau menolong. Kami sudah menemukan beberapa jasad, dan mereka juga belum membantu mengangkatnya,” ujarnya.

Di satu titik bangunan yang roboh, warga bahkan memblokir ekskavator agar tak pergi. Operator alat berat itu ditarik keluar dari kabin tak lama setelah petugas negara disebut berfoto di depan bangunan yang hancur lalu meninggalkan lokasi tanpa membantu.

“Mereka datang untuk makan arepa dan berfoto supaya terlihat seperti bekerja,” kata Yeison Marcano, warga yang sudah tiga hari mencari korban. “Seragam mereka bahkan tak kotor seperti kami.”

Pemerintah juga membatasi akses ke La Guaira dan mewajibkan relawan punya izin masuk. Kebijakan ini memicu antrean panjang di Caracas, termasuk di luar sebuah aula konser tempat warga menunggu izin untuk ikut menolong.

“Anda butuh izin untuk menyelamatkan nyawa — bayangkan saja,” kata Carlos Itriago, 27 tahun. Ezequiel Rivero, 53 tahun, menambahkan bahwa ia sudah menunggu sejak subuh untuk bisa masuk ke zona terdampak.

Bantuan asing berdatangan, tapi kebutuhan masih jauh lebih besar

Di tengah kritik terhadap respons domestik, bantuan internasional mulai masuk. Sebanyak 21 negara mengirim tim pencarian dan penyelamatan. Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 250 personel, termasuk tiga unit khusus pencarian dengan anjing pelacak untuk menemukan korban di bawah reruntuhan.

Bandara Internasional Simón Bolívar, yang melayani Caracas, juga mengalami kerusakan berat. Satu landasan pacu masih bisa dipakai, tapi itu jauh dari cukup untuk menopang kebutuhan logistik di lapangan.

Kepala urusan kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, mengatakan lebih dari 50.000 orang masih hilang. Badan migrasi PBB memperkirakan hingga 6,76 juta orang bisa terdampak. PBB juga menaksir kerusakan fisik mencapai 6,7 miliar dolar AS, setara sekitar 6 persen produk domestik bruto Venezuela.

Angka itu memberi gambaran betapa luasnya dampak gempa ini. Bukan hanya korban jiwa. Bukan hanya rumah roboh. Tapi juga ekonomi, mobilitas, dan layanan darurat yang ikut terhuyung.

Harapan kecil di antara puing

Di tengah suasana muram, masih ada secuil kabar baik. Pada Jumat, warga berhasil menarik seorang bayi hidup-hidup dari reruntuhan, sekitar 32 jam setelah guncangan. Momen itu sempat memberi harapan bahwa tidak semua yang tertimbun sudah terlambat ditolong.

Namun bagi banyak keluarga, harapan itu datang terlambat. Barbara Palacios, misalnya, sempat mendengar suara suaminya dari bawah puing dan berteriak memanggilnya. Ia menolak pergi selama proses pencarian berlangsung.

“Saya tidak akan pergi sebelum mereka mengeluarkan suami saya,” katanya. Ketika tim akhirnya berhasil mengevakuasi korban, sang suami ternyata sudah tidak bernyawa.

Di banyak sudut Venezuela, warga kini saling mengandalkan. Seorang musisi, Zaira Castro, menegaskan bahwa orang-orang biasa lah yang saling membantu saat negara dianggap tak hadir. “Kami hidup dalam masyarakat yang sudah terbiasa saling menolong,” ujarnya kepada AFP. “Kami tidak bergantung pada pemerintah — pemerintah itu sudah tidak ada bagi kami.”

Kisah itu merangkum suasana di lapangan: marah, lelah, dan putus asa. Tapi juga keras kepala. Warga terus menggali, memanggil nama keluarga, dan menunggu kabar di tengah bau tanah basah serta reruntuhan yang belum juga diam.

“Kami masih mencari,” kata seorang relawan di lokasi. “Selama masih ada kemungkinan, kami tidak akan berhenti.”

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda