Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Larangan media sosial usia minimum 16 tahun makin meluas

Larangan media sosial usia 16 tahun meluas di banyak negara
Larangan media sosial usia 16 tahun meluas ke Inggris, Australia, dan Asia. (Ilustrasi: AI)

“Mereka terus menunjukkan kepada dunia mengapa kita tidak bisa mempercayai mereka,” ujar Béjar.

Meta membantah putusan itu dan menyatakan akan mengajukan banding. Perusahaan juga menegaskan bahwa kesehatan mental remaja adalah persoalan yang “sangat kompleks” dan tidak bisa disederhanakan menjadi satu penyebab tunggal. Meta menambahkan bahwa mereka tetap berkomitmen membangun lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak muda.

Tekanan politik dan lobi big tech

Di balik aturan yang makin ketat, industri teknologi justru bergerak agresif. Di Uni Eropa, perusahaan teknologi besar disebut menghabiskan sekitar €150 juta atau sekitar £130 juta untuk lobi selama tahun lalu. Angkanya naik sepertiga hanya dalam dua tahun.

Meta disebut sebagai pembelanja terbesar, dengan dana sekitar €10 juta. Kelompok kampanye Corporate Europe Observatory dan LobbyControl mengatakan topik media sosial masih masuk dalam agenda penting pertemuan dengan Komisi Eropa, meski kecerdasan buatan menjadi fokus terbesar para raksasa teknologi.

Seorang anggota parlemen Uni Eropa mengatakan perusahaan-perusahaan itu “membombardir” Brussels dengan pesan yang menentang larangan usia media sosial. Di Amerika Serikat, mereka juga menekan Kids Online Safety Act atau Kosa, rancangan undang-undang yang mewajibkan platform menyiapkan langkah pencegahan atas berbagai dampak buruk bagi anak.

Issue One mencatat Meta menjadi pelobi teknologi terbesar di AS. Perusahaan itu disebut memiliki satu pelobi untuk setiap enam anggota Kongres. Antara 2020 dan 2024, perusahaan teknologi besar menghabiskan total US$260 juta untuk lobi tingkat federal.

Meta mengatakan ingin ada “standar nasional yang seragam untuk keselamatan daring bagi kaum muda”.

Kenapa Inggris disebut titik balik

Meski panel ahli independen yang ditunjuk pemerintah Inggris disebut masih memberi penilaian “nuansa” soal dampak media sosial terhadap remaja, Perdana Menteri Keir Starmer tetap memilih jalan tegas. Keputusan itu dianggap sebagian pengamat sebagai sinyal bahwa pemerintah tidak lagi menunggu bukti sempurna untuk bertindak.

The Guardian menulis, seorang sumber di salah satu perusahaan teknologi yang terdampak larangan Inggris mengaku frustrasi karena tidak semua pesaing bergerak serius di bidang keamanan. Menurut sumber itu, ketidakkonsistenan antarplatform membuat aturan keras seperti ini lebih mudah muncul.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda