Di situlah peran laboratorium, dosen, dan peneliti. Jika riset kampus bisa masuk ke tahap uji terapan dan produksi skala besar, Indonesia punya peluang membangun industri bioetanol yang lebih rapi. Bukan lagi bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Model plasma inti dan peluang bagi petani
Dalam penjelasannya, Bahlil mendorong pola kemitraan inti-plasma, yakni korporasi sebagai inti dan petani sebagai plasma. Skema ini, menurut dia, bisa membuat hubungan bisnis lebih jelas karena negara hadir sebagai penjamin pasar. Rantai itu penting. Tanpa pembeli yang pasti, petani sering ragu menanam komoditas energi karena risiko harga dan serapan pasar terlalu besar.
Model seperti ini juga membuka jalan agar perguruan tinggi tidak berhenti di riset dasar. Kampus bisa terlibat dalam pemetaan bahan baku, peningkatan rendemen, desain pabrik, hingga analisis keekonomian. Kalau semuanya nyambung, hasil penelitian tidak mentok di jurnal. Ia turun ke lapangan.
Bahlil bahkan membandingkan posisi negara sebagai pembeli dengan opsi impor. Menurut dia, lebih baik kebutuhan E20 dipenuhi dari dalam negeri ketimbang mengandalkan pasokan dari Amerika Serikat atau Eropa. Pernyataan itu menegaskan arah kebijakan: energi harus jadi alat kedaulatan, bukan sekadar barang dagangan.
“Ini jauh lebih jelas optekernya negara daripada kita impor dari Amerika atau Eropa,” ujar dia.
Kompor listrik, CNG, dan jargas ikut dibidik
Ajakan ke kampus tidak berhenti di Program E20. Bahlil juga membuka peluang kerja sama dalam program pengadaan kompor listrik. Di Kementerian ESDM, kata dia, pada 2027 ada alokasi Rp600 miliar untuk pengadaan kompor listrik, dan kampus yang mampu membuat produk sesuai kebutuhan pemerintah akan diprioritaskan dalam pengadaan.
“Di Kementerian ESDM tahun 2027 mendatang ada program pengadaan kompor listrik Rp600 miliar dan kampus siapa yang mau bikin langsung akan kita pesan pengadaannya di kampus itu saja,” ujarnya.
Pernyataan itu penting karena menunjukkan arah belanja pemerintah tidak lagi hanya mengarah ke pabrikan besar. Kampus, jika sanggup memenuhi spesifikasi, bisa ikut masuk rantai pengadaan. Peluangnya konkret. Bukan wacana.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.