LOS ANGELES — Dominasi sepak bola Asia di panggung global menemui jalan buntu setelah hanya dua dari sembilan utusan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang berhasil menembus babak gugur Piala Dunia 2026. Catatan merah ini menjadi penurunan drastis dibandingkan edisi 2022 di Qatar, saat tiga wakil Asia sukses melaju ke babak 16 besar ketika turnamen masih memakai format lama.
Ekspansi peserta menjadi 48 tim semula digadang-gadang bakal menguntungkan tim-tim Asia untuk melaju lebih jauh lewat jalur peringkat ketiga terbaik. Namun, kenyataan di lapangan justru berbicara lain. Hanya Jepang dan Australia yang mampu mengamankan tiket ke babak 32 besar, sementara raksasa lain seperti Korea Selatan harus pulang lebih cepat membawa tumpukan evaluasi taktis.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Tragedi Takti Hong Myung-bo dan Nasib Son Heung-min
Kegagalan paling menyita perhatian dialami oleh Korea Selatan di Grup A. Sempat membuka asa lewat kemenangan meyakinkan 2-1 atas Republik Ceko, langkah Taegeuk Warriors goyah setelah ditekuk Meksiko 1-0 akibat blunder kiper Kim Seung-Gyu. Tragisnya, skuad asuhan Hong Myung-bo justru keok 0-1 dari tim non-unggulan Afrika Selatan pada laga pamungkas saat hanya butuh hasil imbang untuk lolos.
Keputusan taktis Hong Myung-bo langsung menjadi sasaran tembak publik Seoul. Eksperimennya menempatkan Son Heung-min sebagai striker tengah, bukan di posisi alaminya sebagai penyerang sayap pada dua laga awal, dinilai mematikan potensi terbaik sang kapten. Puncaknya, Hong malah mencadangkan bintang Los Angeles FC tersebut saat melawan Afrika Selatan.
Media Korea Selatan, Yonhap News Agency, bahkan menyebut kegagalan ini sebagai sebuah kehinaan yang memilukan. Spekulasi mengenai masa depan Son Heung-min di tim nasional kini menyeruak, dengan media lokal Sports Chosun memprediksi laga tersebut menjadi panggung terakhir sang megabintang di turnamen empat tahunan ini.
Drama Kartu Merah Qatar dan Nasib Sial Iran
Nasib buruk juga menimpa Qatar di Grup B. Setelah sempat mengejutkan Swiss lewat gol penyama kedudukan di menit berdarah, kampanye juara Asia ini berantakan saat bersua Kanada. Kartu merah yang diterima Homam Ahmed dan Assim Madibo membuat mereka hancur lebur dengan skor 0-6, sebelum akhirnya didepak Bosnia-Herzegovina 1-3 pada laga penentuan.
Di sisi lain, Iran menjadi tim paling tidak beruntung sepanjang turnamen. Di tengah situasi politik yang rumit dan kendala logistik ketat dari otoritas Amerika Serikat yang membatasi ruang gerak skuad, Team Melli tampil heroik. Mereka sukses menahan imbang Belgia 0-0 dan Mesir 1-1, namun gol dramatis Austria ke gawang Aljazair di menit akhir pertandingan grup lain memupuskan harapan Iran untuk lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik.
Jepang dan Australia Jaga Gengsi Benua Kuning
Praktis, hanya Jepang dan Australia yang mampu berbicara banyak. Australia melaju ke babak 32 besar sebagai runner-up grup setelah meredam Turki 2-0 dan bermain imbang tanpa gol dengan Paraguay, meski sempat takluk dari Amerika Serikat. Socceroos kini bersiap menghadapi tantangan berat melawan Mesir di fase gugur.
Sementara itu, Jepang kembali membuktikan mentalitas baja mereka. Skuad asuhan Hajime Moriyasu menahan imbang Belanda dan membantai Tunisia 4-0. Walau ditahan imbang Swedia 1-1 pada laga terakhir yang membuat mereka harus puas di posisi kedua, Samurai Biru siap menguji nyali melawan raksasa dunia, Brasil, di babak berikutnya.
Hasil minor tim-tim AFC di turnamen kali ini menjadi sinyal kuat bahwa melebarnya kuota Piala Dunia tidak serta-merta memperkecil jarak kualitas taktis antara sepak bola Asia dengan kawasan Eropa maupun Amerika Selatan.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.