Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Penuaan Mitokondria Bisa Diperlambat lewat Nutrisi, Ini Temuannya

Ilustrasi penuaan mitokondria dan fosfatidilkolin dalam sel
Penuaan mitokondria bisa diperlambat?. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — penuaan mitokondria ternyata tak sepenuhnya jalan satu arah. Studi terbaru yang dipimpin Fritz Lipmann Institute (FLI) di Jerman menemukan bahwa penurunan fosfatidilkolin, jenis lipid penting di sel, ikut membuat “pembangkit energi” di dalam tubuh melemah seiring usia.

Temuan yang dimuat di Nature Communications itu juga menunjukkan satu hal yang menarik: saat kadar fosfatidilkolin atau senyawanya, kolin, dipulihkan lewat diet pada model cacing, fungsi mitokondria bisa kembali lebih lentur dan lebih efisien.

Penuaan mitokondria dan peran lipid yang sering luput

Mitokondria kerap dijuluki mesin energi sel. Di dalam organel kecil ini, tubuh memproses energi untuk mendukung gerak, kerja otak, dan banyak fungsi vital lain. Masalahnya, mesin itu ikut menua.

Para peneliti FLI menjelaskan bahwa saat usia bertambah, produksi protein pembentuk fosfatidilkolin ikut menurun. Akibatnya, pasokan bahan bangunan untuk membran mitokondria menyusut. Membran jadi kurang stabil, mitokondria lebih mudah terfragmentasi, dan kerja energinya tak seefisien dulu.

“Kami terkejut sendiri melihat seberapa kuat molekul ini memengaruhi struktur, konektivitas, dan fungsi mitokondria,” kata biologi sel FLI, Tetiana Poliezhaieva, penulis pertama studi itu.

Artinya, penuaan pada level sel bukan cuma soal kerusakan umum yang terjadi perlahan. Ada komponen kimia spesifik yang ikut menekan performa sel dari dalam.

Uji pada cacing, jaringan manusia, dan sel manusia

Riset ini tidak berhenti pada satu model. Tim meneliti cacing, jaringan manusia, dan sel manusia untuk melihat pola yang sama. Hasilnya konsisten: kadar fosfatidilkolin cenderung turun seiring bertambahnya usia.

Dalam percobaan pada cacing, penambahan fosfatidilkolin atau kolin ke dalam diet membuat mitokondria kembali ke bentuk yang lebih muda, lebih fleksibel, dan lebih mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan energi sel. Efeknya bukan kosmetik. Struktur dan fungsi organel benar-benar berubah.

Maria Ermolaeva, biologi sel dari FLI, mengibaratkan sistem energi itu seperti jaringan listrik bercabang halus yang makin rusak karena usia. Sambungan melemah. Arus tersendat. Energi tetap diproduksi, tapi distribusinya tidak lagi luwes dan efisien.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda