Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

160 Polisi Kawal Timnas Korea Pulang Usai Gagal di Piala Dunia

160 Polisi Kawal Timnas Korea Pulang Usai Gagal di Piala Dunia
Kepulangan skuad Korea Selatan dari Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen refleksi. (Ilustrasi: AI)

SEOUL — Kepulangan skuad Korea Selatan dari Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi momen refleksi. Yang terjadi malah menjadi operasi pengamanan darurat, setelah ancaman pembunuhan terhadap pelatih mereka beredar luas di internet.

Kepolisian Metropolitan Incheon mengonfirmasi akan mengerahkan 160 personel pada Selasa (1/7) untuk mengawal kedatangan timnas di Bandara Internasional Incheon. Operator bandara turut menyiapkan 25 staf keamanan tambahan — termasuk penjaga khusus dan pegawai anak perusahaan — untuk mengantisipasi segala kemungkinan, demikian dilaporkan The Korea Herald. Tidak ada acara penyambutan. Tidak ada karpet merah. Hanya kawalan polisi berlapis.

Ancaman Pembunuhan yang Mengubah Segalanya

Semuanya bermula dari satu unggahan di internet. Seseorang menulis ancaman akan membunuh Hong Myung-bo, pelatih kepala timnas Korea yang mengundurkan diri tak lama setelah negaranya tersingkir dari fase grup Piala Dunia 2026 pada 28 Juni lalu.

Hong bukan nama asing di sepak bola Korea. Ia adalah legenda — bek senior yang pernah bermain di empat Piala Dunia berturut-turut antara 1990 hingga 2002, dan kapten saat Taeguk Warriors menembus semifinal di kandang sendiri dua dekade lalu. Tapi semua warisan itu seolah tak berarti dalam hitungan jam setelah peluit panjang babak penyisihan grup berbunyi.

Netizen Korea langsung mengecapnya “pelatih terburuk dalam sejarah sepak bola Korea Selatan.” Sejumlah restoran bahkan dilaporkan menolak kehadirannya. The Chosun Daily melaporkan tekanan sosial terhadap Hong begitu masif hingga keselamatannya menjadi prioritas aparat keamanan. Polisi berencana memisahkan jalur kedatangan umum dengan jalur yang digunakan para pemain, sembari menjaga ketertiban di area arrival hall agar penumpang lain tidak terganggu.

Peringkat 34: Tamparan yang Tak Terbayangkan

Korea Selatan masuk Piala Dunia 2026 dengan ekspektasi tinggi. Skuad yang diisi nama-nama bermain di liga-liga top Eropa, ditambah kedalaman bench yang dianggap memadai, membuat publik optimistis. Tapi turnamen berbicara berbeda.

Tiga pertandingan. Lalu pulang.

Posisi akhir mereka: peringkat 34 dari seluruh 48 peserta — gagal menembus babak 32 besar, alias babak gugur pertama yang diikuti semua tim lolos penyisihan. Bagi negara yang pernah menembus semifinal Piala Dunia 2002 di kandang sendiri dan menjadi salah satu kekuatan Asia yang konsisten hadir di putaran final, ini bukan sekadar hasil buruk. Ini adalah salah satu kekalahan paling mengejutkan di turnamen kali ini.

Sebagai konteks: sejak 2002, Korea Selatan selalu lolos ke babak gugur di tiga dari lima Piala Dunia berikutnya. Ekspektasi minimal “lolos 16 besar” sudah tertanam kuat di benak publik. Maka ketika ekspektasi itu kandas total, reaksi yang muncul jauh melampaui kekecewaan biasa.

Presiden Turun Tangan, Ini Bukan Biasa

Dampak kegagalan ini merambah jauh ke luar lapangan. Presiden Lee Jae-myung secara langsung memerintahkan investigasi resmi untuk mengusut akar penyebab kegagalan timnas — sebuah langkah yang sangat jarang, bahkan hampir belum pernah terjadi dalam konteks sepak bola Korea modern.

Intervensi politik semacam ini memberi sinyal jelas: ini bukan urusan federasi semata. Ini sudah menjadi isu negara.

Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) dipastikan menghadapi tekanan besar dari berbagai arah — dari publik, media, hingga pemerintah — untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Mulai dari proses penunjukan pelatih, manajemen tim, hingga program pembinaan jangka panjang yang selama ini dianggap stagnan.

Lebih dari Skor, Ini Soal Identitas

Sepak bola di Korea bukan hiburan biasa. Ini soal identitas nasional — perasaan kolektif jutaan orang yang terkoneksi lewat warna merah jersey Taeguk Warriors. Ketika identitas itu terasa dikhianati, reaksi publik bisa melesat jauh melampaui nalar.

Ancaman daring terhadap Hong Myung-bo adalah gejala paling ekstrem dari luka itu. Tapi gelombang kemarahan yang lebih luas — petisi online yang bermunculan, desakan pengunduran diri petinggi KFA, debat panas di media nasional — menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih dalam dari sekadar satu pelatih yang salah pilih formasi.

Ada pertanyaan struktural yang lebih besar: mengapa Korea, dengan sumber daya dan talenta yang dimiliki, gagal membangun tim yang kompetitif secara konsisten di level Piala Dunia? Son Heung-min, yang kini masuk usia 33 tahun, kemungkinan besar sudah melewati puncaknya. Generasi berikutnya belum terbukti. Dan sistem pengembangan pemain muda KFA sudah lama disorot tidak berjalan maksimal.

Apa yang Menanti Setelah Ini

Para pemain yang tiba Selasa disambut bukan oleh ribuan suporter, tapi oleh ratusan polisi berseragam dan cincin keamanan yang ketat. Itu gambaran yang menyedihkan — tapi juga menjadi cermin betapa tingginya tekanan yang kini menghimpit sepak bola Korea.

Investigasi pemerintah, restrukturisasi KFA, dan pencarian pelatih baru akan mendominasi berita dalam beberapa pekan ke depan. Tapi pertanyaan paling mendasar tetap sama: Korea ingin seperti apa di Piala Dunia 2030? Jawabannya harus datang lebih cepat dari biasanya — karena waktu untuk membangun ulang tidak akan menunggu.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda