Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Bea Cukai Manokwari: Volume ekspor pada Mei turun 38,68 persen

Bea Cukai Manokwari
Foto: kevin dooley/flickr (BY)

MANOKWARI — Volume ekspor di wilayah kerja Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Manokwari, Papua Barat, pada Mei 2026 turun 38,68 persen menjadi 110,74 juta kilogram. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan Mei 2025 yang masih mencapai 180,6 juta kilogram.

Penurunan itu terjadi saat kinerja perdagangan luar negeri Manokwari masih bertumpu pada industri semen. Di satu sisi, ekspor masih berjalan. Di sisi lain, lajunya melambat karena permintaan salah satu komoditas andalan, cement clinker, menyusut dari pasar luar negeri.

Permintaan cement clinker melemah

Kepala Seksi Pabean dan Cukai KPPBC Manokwari Feredy mengatakan penurunan volume ekspor terutama dipicu berkurangnya permintaan cement clinker dari luar negeri. Komoditas ini selama ini menjadi salah satu penopang utama ekspor di wilayah kerja Bea Cukai Manokwari.

“Penurunannya cukup signifikan sehingga memengaruhi keseluruhan volume ekspor dari wilayah kerja Bea Cukai Manokwari,” ujarnya di Manokwari, Senin.

Feredy menjelaskan, kinerja ekspor Manokwari masih ditopang produk semen dari PT Conch West Papua Cement. Produk yang masuk hitungan ekspor antara lain cement clinker, hydraulic cement, dan portland composite cement. Namun, komposisinya bergerak tidak seragam. Ada yang turun. Ada yang justru naik tajam.

Rilis resmi KPPBC Manokwari menunjukkan ekspor hydraulic cement pada Mei 2026 mencapai 48,74 juta kilogram. Angka itu turun sekitar 1,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, ekspor portland composite cement melonjak sekitar 90,18 persen menjadi 62 juta kilogram.

Pergerakan dua produk itu menunjukkan bahwa struktur ekspor Manokwari masih bergantung pada sektor industri berbasis semen. Kalau permintaan global untuk satu jenis produk melemah, total volume langsung ikut tertekan. Efeknya terasa cepat.

Nilai ekspor ikut terkoreksi

Tak hanya volume, nilai ekspor dari Januari hingga Mei 2026 juga turun. Menurut Feredy, total ekspor sepanjang periode itu mencapai 4,63 juta dolar Amerika Serikat atau merosot 24,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 6,16 juta dolar AS.

Penurunan nilai dan volume ini penting dibaca bersama. Sebab, kalau volume turun lebih dulu, penerimaan dari aktivitas perdagangan luar negeri biasanya ikut terpengaruh, terutama saat harga komoditas tidak cukup kuat menahan pelemahan permintaan.

Di sisi penerimaan negara, KPPBC Manokwari mencatat perolehan hingga Mei 2026 sebesar Rp17,93 miliar. Angka itu turun 36,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp28,44 miliar.

Data ini memberi gambaran bahwa perlambatan ekspor tidak hanya soal jumlah barang yang keluar dari pelabuhan. Dampaknya merembet ke kas negara, walau aktivitas kepabeanan tetap berjalan dan fungsi pengawasan masih dipertahankan.

Tujuan ekspor masih terbatas di dua negara

Feredy juga menyebut Timor Leste menjadi negara tujuan ekspor terbesar pada Mei 2026 dengan porsi sekitar 67 persen dari total ekspor. Sisanya mengalir ke Papua Nugini.

Peta tujuan ekspor yang masih terkonsentrasi di dua negara ini menunjukkan pasar luar negeri Manokwari belum terlalu lebar. Bagi pelaku industri, kondisi seperti ini punya konsekuensi jelas. Bila satu pasar melambat, dampaknya langsung terasa pada volume keseluruhan.

Dalam konteks perdagangan daerah, pasar yang sempit juga membuat ekspor lebih rentan terhadap perubahan permintaan. Karena itu, diversifikasi tujuan ekspor kerap menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan, terutama bagi wilayah yang masih bertumpu pada satu klaster industri.

Feredy tidak menyebut adanya gangguan produksi, tetapi penurunan permintaan cement clinker memberi sinyal bahwa faktor pasar global masih sangat menentukan. Bagi pelaku usaha di Papua Barat, ini berarti pergerakan ekspor tidak bisa dilepaskan dari kondisi permintaan di negara tujuan.

Impor bahan baku masih mengikuti produksi

Di sisi lain, aktivitas impor sepanjang Januari-Mei 2026 masih didominasi pemasukan bahan baku dan bahan penolong untuk mendukung produksi PT Conch West Papua Cement. Komoditas utama yang masuk adalah natural gypsum.

KPPBC Manokwari mencatat kinerja impor hingga 31 Mei 2026 turun 31,28 persen menjadi 116 juta kilogram dari 168,8 juta kilogram pada periode yang sama tahun 2025. Nilai impornya juga terkoreksi cukup dalam.

“Hingga 31 Mei 2026 ada satu kali kegiatan impor dengan tarif bea masuk lima persen sehingga menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,356 miliar. Nilai impor turun 42,35 persen dari Rp210,64 miliar menjadi sekitar Rp121,42 miliar,” kata Feredy.

Angka-angka itu memperlihatkan bahwa kegiatan impor di Manokwari masih sangat terkait kebutuhan produksi industri semen. Saat kebutuhan bahan baku turun, impor ikut turun. Saat produksi menyusut, arus barang masuk pun ikut mengecil.

Bagi daerah, kondisi ini memberi dua sisi dampak sekaligus. Aktivitas industri tetap bergerak, tetapi ruang pertumbuhan penerimaan dari perdagangan luar negeri belum lepas dari ketergantungan pada satu sektor utama.

Pengawasan pita cukai dan dorongan UMKM

Meski ekspor dan impor turun, Bea Cukai Manokwari tetap menjalankan fungsi lain, termasuk pengawasan barang kena cukai. Hingga Mei 2026, petugas menindak 6.529 batang hasil tembakau tanpa pita cukai yang kemudian ditetapkan sebagai Barang Dikuasai Negara.

Di luar fungsi pengawasan, kantor ini juga mendorong pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah berorientasi ekspor. Programnya mencakup sosialisasi, asistensi, dan kunjungan langsung kepada pelaku usaha agar bisa menembus pasar internasional.

Kegiatan itu dilakukan bersama Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Barat. Pendampingan seperti ini penting, karena pelaku UMKM sering kali butuh bantuan di tahap paling awal: memahami standar produk, dokumen, dan syarat masuk ke pasar luar negeri.

Bagi pembaca di Papua Barat, data Mei 2026 ini memberi dua pesan sederhana. Ekspor Manokwari memang masih berjalan, tapi tekanannya nyata. Dan di saat yang sama, penerimaan negara dari aktivitas kepabeanan ikut bergerak mengikuti ritme pasar. Satu angka yang paling mencolok: volume ekspor turun 38,68 persen dalam sebulan dibanding Mei 2025.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda