Kedua, tren AI global justru tidak menguntungkan posisi China. Investor saat ini lebih memilih saham produsen chip ketimbang perusahaan cloud besar. China kekurangan produsen perangkat keras terkemuka di dalam negeri — sehingga ketika dana global mengalir deras ke sektor semikonduktor, China tidak banyak kebagian.
Ketiga, risiko regulasi kembali membayangi. Tindakan tegas Beijing terhadap aliran modal lintas batas memicu pengawasan lebih ketat pada investasi di Hong Kong. Kekhawatiran lama soal intervensi pemerintah kembali hidup.
Larry Hu, kepala ekonomi China di Macquarie Group di Hong Kong, memperkirakan pertumbuhan PDB kuartal kedua akan merosot ke kisaran 4,4% — di bawah target resmi setahun penuh. “Jika perdagangan AI global terus melonjak dan mengerek ekspor, pemerintah tidak akan menggelontorkan stimulus besar untuk mendongkrak konsumsi domestik, sehingga permintaan dalam negeri akan tetap lemah,” katanya.
Raksasa Teknologi Bakar Modal, Tapi Hasilnya Belum Terlihat
Ironinya, justru saat pasar anjlok, raksasa teknologi China sedang membakar modal dalam jumlah raksasa untuk AI.
Tencent berencana melipatgandakan belanja modal 2026 menjadi lebih dari 36 miliar yuan — sekitar Rp94 triliun. Alibaba berkomitmen menginvestasikan 380 miliar yuan selama beberapa tahun ke depan. Angka-angka itu luar biasa besar.
Tapi pasar belum percaya hasilnya akan datang cepat.
Tencent bulan lalu melaporkan pertumbuhan pendapatan paling lambat dalam enam kuartal terakhir. Bisnis inti mereka — gim dan periklanan — mulai kehilangan momentum, sementara model monetisasi AI-nya belum jelas. Alibaba bahkan mencatat kerugian operasional kuartalan pertama sejak 2021.
Masalah tidak berhenti di situ. Anthropic pekan lalu menuduh Alibaba melakukan upaya skala besar untuk mengakses model AI “Claude” miliknya secara ilegal. Departemen Pertahanan AS juga menuduh Alibaba, Baidu, dan BYD mendukung militer China. Tekanan geopolitik ini menambah daftar panjang risiko yang harus ditanggung investor.
Dua China di Bursa: Onshore Lebih Tangguh
Menarik bahwa pasar domestik China — Shenzhen dan Shanghai — relatif lebih tahan banting. Indeks CSI 300 naik sekitar 6% tahun ini, ditopang reli saham-saham produsen perangkat keras teknologi.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.