Maxim masuk ke Indonesia pada 2018 dengan strategi harga agresif — tarif lebih murah untuk penumpang, komisi lebih rendah untuk pengemudi dibanding pemain dominan saat itu. Strategi itu berhasil merebut pangsa pasar, terutama di kota-kota tier dua dan tiga seperti Medan, Makassar, Palembang, dan Banjarmasin.
Dengan komisi 8 persen, Maxim kini menawarkan salah satu potongan terendah di antara platform ojol yang beroperasi di Indonesia. Sebagai perbandingan, beberapa platform besar lain masih beroperasi di kisaran 20–25 persen komisi — meski angka pastinya tidak selalu diumumkan secara terbuka.
Langkah Maxim bisa menjadi tekanan tidak langsung bagi platform lain untuk menyesuaikan diri, atau setidaknya memperjelas struktur komisi mereka kepada publik. Perpres 27/2026 memberi pemerintah kewenangan untuk mengaudit struktur komisi platform secara berkala.
Dampak Nyata ke Kantong Pengemudi
Perubahan komisi ini berlaku untuk layanan Maxim Bike — ojek motor — yang menjadi tulang punggung operasional Maxim di Indonesia. Layanan lain seperti Maxim Car dan Maxim Delivery belum dikonfirmasi mengikuti skema yang sama per tanggal pengumuman.
| Skenario Perjalanan | Komisi 12% (lama) | Komisi 8% (baru) | Selisih per hari |
|---|---|---|---|
| 20 perjalanan × Rp 10.000 | Rp 24.000 | Rp 16.000 | +Rp 8.000 |
| 25 perjalanan × Rp 12.000 | Rp 36.000 | Rp 24.000 | +Rp 12.000 |
| 30 perjalanan × Rp 15.000 | Rp 54.000 | Rp 36.000 | +Rp 18.000 |
Angka di atas belum mempertimbangkan bonus dan insentif harian yang tetap berjalan. Artinya, penghematan komisi ini bersifat kumulatif — menumpuk di atas insentif yang sudah ada.
Apa Arti Ini bagi Penumpang?
Pertanyaan wajar: apakah tarif untuk penumpang ikut naik?
Sejauh pengumuman Maxim, tidak ada perubahan struktur tarif untuk pengguna layanan. Komisi yang dipotong memang dari sisi platform — bukan dari kantong penumpang langsung. Tapi dalam jangka panjang, jika tekanan biaya operasional platform meningkat, penyesuaian tarif tetap bisa terjadi.
Untuk saat ini, Maxim tampaknya menyerap selisih komisi itu sendiri sebagai strategi mempertahankan — bahkan memperkuat — loyalitas pengemudi. Pengemudi yang merasa lebih sejahtera cenderung lebih aktif online, yang pada akhirnya menjaga ketersediaan armada bagi penumpang.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.