Sabtu, 4 Juli 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Ribuan Demonstran Serbia Terus Protes Meski Vucic Janji Turun Tahta

Ribuan demonstran Serbia menggelar aksi protes damai di alun-alun Kraljevo sambil membawa bendera nasional dan spanduk bertul
Ribuan demonstran Serbia terus protes di Kraljevo meski Vucic janji mundur. (Ilustrasi: AI)

“Dia mengatakan akan mundur, tapi siapa yang akan menggantikan? Anaknya? Salah satu menteri? Kami tidak tahu,” kata Jelena Markovic, seorang guru sekolah menengah berusia 38 tahun yang juga hadir di Kraljevo. “Itu hanya permainan. Permainan lama yang kami sudah lelah mainkan.”

Kekhawatiran Markovic bukan tanpa dasar. Dalam sejarah Balkan pasca-1990, janji penyerahan kekuasaan dari pemimpin otokratis sering menjadi sandiwara. Pelepasan jabatan formal tidak selalu diikuti dengan pelepasan pengaruh nyata. Vucic sendiri, ketika menjadi perdana menteri (2012-2017), masih mempertahankan kendali atas partai dan negara bahkan setelah naik menjadi presiden. Pola ini menciptakan kecurigaan yang mendalam di kalangan demonstran.

Gerakan Meluas ke Seluruh Negara

Sejak awal November 2024, protes telah mencakup lebih dari 20 kota Serbia. Menurut data dari organisasi pemantau hak asasi manusia lokal, setidaknya 500.000 orang telah turun ke jalan dalam berbagai aksi. Jumlah itu terus bertambah setiap minggu, khususnya di kalangan mahasiswa dan kelompok usia muda (18-35 tahun) yang menganggap masa depan mereka terancam oleh mismanajemen dan korupsi sistemik.

Gelombang di Kraljevo adalah bagian dari momentum yang lebih besar. Kota berjarak sekitar 180 kilometer tenggara Beograd ini dipilih sebagai lokasi aksi karena relevansinya—Kraljevo adalah pusat industri otomotif Serbia, dan banyak pengangguran muda membuatnya menjadi hotspot penolakan terhadap ekonomi yang stagnan.

Apa Yang Sebenarnya Mereka Minta?

Tuntutan demonstran tidak hanya sekadar mundur Vucic. Mereka menginginkan reformasi struktural: transparansi dalam proyek infrastruktur, pertanggungjawaban atas kesalahan yang menyebabkan 16 orang tewas, pencegahan korupsi dalam tender publik, dan—yang paling penting—pemilihan yang benar-benar bebas dan adil tanpa manipulasi pemerintah.

Para penganalisis politik mencatat bahwa gerakan ini mencerminkan kelesuan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah yang dianggap lamban bereaksi, tidak responsif, dan penuh kolusi. “Ini adalah momentum perubahan generasional,” ujar dr. Bojan Pajtic, penganalisis politik dari University of Belgrade’s Institute for Political Studies, dalam wawancara virtual minggu lalu. “Generasi muda Serbia tidak lagi menerima janji kosong. Mereka ingin bukti nyata dan perubahan sistemik.”

Halaman:123Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda