Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

BKKBN Kalsel: Kehadiran ayah investasi bagi karakter dan masa depan anak

BKKBN Kalsel
Foto: cottonbro studio/Pexels

BANJARMASIN — Satu dari empat anak di Kalimantan Selatan kini tumbuh dengan minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan sehari-hari. Fenomena yang dikenal sebagai fatherless ini menjadi sinyal peringatan bagi ketahanan keluarga, mengingat sosok ayah memiliki peran krusial dalam membentuk fondasi mental dan karakter seorang anak.

Kondisi ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Di balik angka tersebut, ada realitas anak-anak yang kehilangan figur otoritas positif sekaligus teman bicara di rumah. Dampaknya nyata. Minimnya sosok ayah membuat anak lebih rentan terhadap krisis kepercayaan diri dan kesulitan dalam meregulasi emosi saat beranjak dewasa.

Kepala Perwakilan BKKBN Kalimantan Selatan, Lisna Prihantini, menyebut kehadiran ayah bukan sekadar pelengkap, melainkan investasi jangka panjang. Data Pemutakhiran Pendataan Keluarga tahun 2025 menunjukkan angka keterlibatan ayah yang belum optimal mencapai 27,1 persen. Artinya, ada ribuan hingga jutaan anak yang kehilangan figur teladan di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Membedah Mitos Kepala Keluarga

Selama ini, peran ayah sering kali terjebak dalam stigma sempit sebagai pemberi nafkah utama. Pola pikir “urusan anak adalah tugas ibu” masih mengakar kuat di banyak rumah tangga. Padahal, kebutuhan anak jauh lebih luas daripada sekadar dukungan finansial atau biaya sekolah yang tercukupi tepat waktu.

Kehadiran ayah harus dimaknai sebagai keterlibatan emosional, pendampingan saat belajar, hingga menjadi pendengar yang baik bagi cerita anak. Seorang anak yang memiliki ayah terlibat cenderung memiliki performa akademik lebih stabil dan kemampuan sosial yang lebih baik. Mereka belajar tentang batasan, keberanian, dan empati melalui interaksi langsung dengan sosok ayah.

Lisna menekankan bahwa teknologi dan perubahan sosial menuntut peran ayah yang lebih adaptif. Anak-anak membutuhkan sosok yang mampu memberikan rasa aman sekaligus menanamkan nilai-nilai moral. Keterlibatan ini krusial untuk mencegah dampak negatif jangka panjang pada kesehatan mental dan ketahanan sosial generasi muda.

Untuk merespons kondisi tersebut, BKKBN menjalankan sejumlah program taktis, seperti Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Gerakan ini diperkuat pula dengan inisiatif praktis seperti Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (GEMAS). Tujuannya sederhana: mendorong para ayah untuk mulai terlibat dalam detail kecil kehidupan anak mereka.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda