Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Jerman Dipanggang Suhu Ekstrem, Rel di Jalur Trem Meleleh

Jerman Dipanggang Suhu Ekstrem, Rel di Jalur Trem Meleleh
Jerman dilanda suhu ekstrem hingga 41 derajat Celsius, menyebabkan rel trem di Leipzig meleleh dan operasional terpaksa dihentikan. (Ilustrasi: AI)

LEIPZIG — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa kini mencapai titik yang membahayakan infrastruktur publik di Jerman secara signifikan. Suhu yang melonjak hingga melampaui 41 derajat Celsius tidak lagi sekadar masalah kenyamanan warga, melainkan ancaman nyata bagi fungsi dasar kota, termasuk sistem transportasi massal.

Kondisi di Leipzig menjadi potret paling mencolok dari krisis ini. Rel trem di beberapa titik dilaporkan mengalami deformasi fisik akibat paparan panas yang berkepanjangan. Material pengeras dan aspal di sekitar bantalan rel bereaksi terhadap suhu tinggi tersebut, memuai hingga menyusup ke celah-celah lintasan. Kondisi ini memaksa otoritas transportasi setempat mengambil langkah drastis dengan menghentikan operasional trem, sebuah keputusan sulit yang berdampak langsung pada mobilitas ribuan warga kota, setidaknya hingga Senin (29/6) pagi.

Suhu Mematikan Sepanjang Pekan

Data cuaca yang dirilis oleh badan meteorologi setempat menunjukkan angka yang mencengangkan di sejumlah wilayah di Jerman. Sepanjang 24 hingga 26 Juni, suhu di Leipzig konsisten menetap di kisaran 35 hingga 40 derajat Celsius. Bahkan, titik-titik lain seperti Drewitz di Saxony-Anhalt dan Bad Muskau di Saxony mencatatkan rekor suhu hingga 41,5 derajat Celsius.

Bukan hanya Leipzig, Kota Saarbrücken pun mencatat suhu ekstrem di angka 41,3 derajat Celsius. Lonjakan temperatur ini menciptakan fenomena teknis yang jarang terjadi di Jerman, yakni rel besi yang melengkung. Fenomena ini terjadi karena baja rel memuai saat terpapar panas matahari langsung tanpa adanya ventilasi atau pendinginan alami yang memadai. Ketika rel tidak memiliki ruang ekspansi yang cukup dalam desainnya, tekanan internal baja tersebut akan memaksa rel membengkok ke samping atau ke atas.

Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, memberikan peringatan keras. Ia menyebut suhu ekstrem sebagai “pembunuh diam-diam” karena banyak fasilitas publik, termasuk gedung sekolah dan kantor tua di Eropa, tidak dirancang untuk menghadapi temperatur setinggi ini. Ketiadaan sistem pendingin ruangan (AC) yang memadai di bangunan-bangunan tua Eropa memperburuk dampak kesehatan bagi penduduk, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda