UNESCO juga menyoroti perlunya langkah yang lebih tegas dalam isu pengerukan dan penangkapan ikan berlebihan. Tahun lalu, Australia memang memperketat aturan pembukaan vegetasi asli di kawasan tangkapan air reef. Tapi menurut sejumlah pemerhati lingkungan, ruang perbaikan masih besar.
“Australia menyambut keputusan UNESCO untuk tidak memasukkan reef sebagai situs terancam dan mengakui semua pekerjaan yang telah dilakukan untuk melindungi reef,” kata Asisten Menteri Pariwisata Australia Nita Green dalam pernyataan televisi, Sabtu.
Tekanan politik mereda, tugas rumah belum selesai
Pemerintah Australia dari beberapa periode sebelumnya memang sudah melobi keras agar Great Barrier Reef tidak jatuh ke daftar terancam. Alasannya bukan hanya soal prestise internasional. Status UNESCO membawa konsekuensi besar bagi citra negara, industri wisata, dan hubungan pemerintah pusat dengan negara bagian Queensland.
Di sisi lain, keputusan draf ini belum berarti garis akhir. Australia masih harus menyerahkan laporan perkembangan lagi ke UNESCO pada 2028. Itu berarti tiga tahun ke depan akan jadi masa pembuktian: apakah langkah perlindungan yang dijalankan benar-benar mampu menahan tekanan iklim dan memperbaiki kualitas ekosistem.
Green menegaskan keputusan terbaru UNESCO juga mengakui bahwa perubahan iklim tetap akan menjadi risiko utama bagi reef. Kalimat itu penting, karena akar persoalan tidak berhenti pada kebijakan lokal. Suhu laut yang meningkat tidak bisa diselesaikan hanya dengan penegakan aturan di pesisir.
Great Barrier Reef sendiri telah terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1981. Di dalamnya hidup sekitar 400 jenis karang dan 1.500 spesies ikan. Nilai ekologisnya besar, nilai ekonominya juga nyata. Dan kini, meski lolos dari cap “terancam”, nasibnya masih bergantung pada apakah Australia bisa menjaga janji-janjinya sebelum laporan berikutnya masuk meja UNESCO pada 2028.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.