Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

FILKOM UB fokus MMD percepat transformasi digital di desa

FILKOM UB fokus MMD percepat transformasi digital di desa
Foto: Duc Nguyen/Pexels

MALANG — Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Brawijaya (UB) mengerahkan 760 mahasiswanya ke Kabupaten Blitar, Jawa Timur, untuk mempercepat adopsi teknologi di level pedesaan.

Melalui program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2026, mereka terjun langsung ke 57 desa untuk menghadirkan solusi digital yang relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal. Langkah ini menjadi jembatan krusial bagi kesenjangan literasi digital yang masih lebar antara pusat kota dan pelosok.

Transformasi digital sering kali terkonsentrasi di kawasan urban. Fenomena ini yang coba didekonstruksi oleh para sivitas akademika UB. Mereka ingin memastikan akses dan pemanfaatan teknologi informasi dapat dirasakan hingga ke pelosok daerah. Bukan sekadar memindahkan fasilitas kota ke desa, tetapi menyelaraskan teknologi dengan adat dan pola ekonomi masyarakat setempat agar berkelanjutan.

Menjawab Kebutuhan Riil di Lapangan

Mahasiswa tidak datang dengan membawa solusi jadi yang kaku. Mereka diwajibkan berkomunikasi intensif dengan perangkat desa, pendidik, hingga pelaku UMKM untuk memetakan persoalan nyata. Setelah membedah masalah, setiap kelompok harus merancang inovasi berbasis teknologi informasi yang aplikatif.

Pendekatan berbasis empati ini menjadi kunci agar teknologi yang ditawarkan tidak sekadar menjadi pajangan digital yang ditinggalkan saat masa program berakhir.

Dekan FILKOM UB, Tri Astoto Kurniawan, menyebut program ini membawa misi “IT for Better Life”. Bentuk solusinya sangat beragam, mulai dari platform pemasaran digital untuk produk UMKM hingga sistem aplikasi untuk efisiensi administrasi pemerintahan desa.

Kehadiran mahasiswa di 57 titik desa ini diharapkan mampu mendongkrak efisiensi birokrasi lokal yang selama ini masih bergantung pada sistem manual yang lamban.

“Kami ingin digitalisasi ini membuat kerja pemerintah desa lebih efisien dan efektif. Mahasiswa adalah agen perubahan yang membawa bahasa teknologi ke dalam bahasa yang dipahami masyarakat desa,” kata Tri seusai acara pelepasan mahasiswa di Auditorium Algoritma FILKOM UB, Sabtu.

Inovasi Kesehatan hingga Kecerdasan Buatan

Penerapan teknologi di pedesaan membutuhkan kejelian melihat potensi. Di lapangan, para mahasiswa mulai memetakan aksi nyata sesuai kondisi spesifik tiap desa. Naufal Zahdan, salah satu peserta MMD dari program studi Sistem Informasi, membagikan rencananya untuk Desa Gununggede, Kecamatan Wonotirto.

Kelompoknya tidak hanya berfokus pada perangkat keras, tetapi juga pada penguatan literasi teknologi manusia sebagai pondasi utama.

Penyuluhan internet positif bagi pelajar menjadi prioritas agar penggunaan teknologi tetap aman di era keterbukaan informasi. Selain itu, mereka akan melakukan digitalisasi peta desa dan memperbarui sistem informasi lokal yang selama ini belum terintegrasi dengan baik.

Tak ketinggalan, edukasi mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) juga masuk dalam agenda utama untuk mendukung produktivitas warga dalam mengolah data pertanian maupun perdagangan.

Inovasi di sektor kesehatan juga tidak luput dari perhatian. Beberapa kelompok mahasiswa tengah merancang sistem pencatatan data stunting yang tersinkronisasi agar tenaga kesehatan desa bisa memantau pertumbuhan balita secara lebih presisi. Mereka mengubah angka statistik yang rumit menjadi visualisasi data yang mudah dipahami kader posyandu.

Proteksi Mahasiswa di Lokasi KKN

Program yang berlangsung selama dua bulan ini menuntut mobilitas tinggi di medan yang mungkin asing bagi para mahasiswa. Menyadari risiko tersebut, pihak panitia memastikan seluruh peserta terlindungi asuransi. Ketua Pelaksana MMD 2026, Hariz Farisi, menjelaskan bahwa setiap mahasiswa telah didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan guna menjamin keamanan selama menjalankan tugas pengabdian di lapangan.

Langkah ini diambil demi menjaga ketenangan mahasiswa dalam beraktivitas. Bahkan, untuk mahasiswa internasional asal Madagaskar, pihak universitas menyediakan skema asuransi khusus yang mampu mengakomodasi status warga negara asing. Total premi yang dibayarkan sekitar Rp8.000 per orang per bulan. Investasi kecil untuk ketenangan besar.

Kehadiran 760 mahasiswa ini diharapkan menjadi katalisator bagi akselerasi ekonomi digital di tingkat desa. Ini sekaligus pembuktian bahwa ilmu komputer bukan hanya tentang baris kode di layar monitor, melainkan tentang mempermudah hidup orang banyak.

Kelak, setelah program ini usai, desa-desa di Blitar diharapkan memiliki kemandirian digital yang lebih kuat dibanding sebelumnya. Tantangan sebenarnya baru dimulai saat para mahasiswa kembali ke kampus dan sistem yang mereka bangun harus terus dirawat oleh warga desa itu sendiri.

Ringkasan Program MMD 2026

  • Target Lokasi: 57 desa di 7 kecamatan, Kabupaten Blitar.
  • Fokus Utama: UMKM, administrasi desa, kesehatan, dan pendidikan berbasis teknologi.
  • Jaminan Keamanan: Seluruh peserta tercover asuransi BPJS Ketenagakerjaan selama masa tugas.

FAQ Singkat

Apakah program ini hanya untuk mahasiswa teknik?
Meskipun diselenggarakan oleh FILKOM, program ini bersifat lintas disiplin karena membutuhkan kolaborasi dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat dalam eksekusi di lapangan.

Bagaimana keberlanjutan program setelah mahasiswa pulang?
Pihak universitas menekankan pada sistem edukasi warga (transfer knowledge), sehingga perangkat desa mampu mengelola aplikasi atau platform yang telah dibangun secara mandiri.

Apa dampak nyata yang diharapkan bagi UMKM desa?
Peningkatan jangkauan pasar melalui digital marketing dan efisiensi manajemen stok melalui aplikasi sederhana yang dikembangkan oleh tim mahasiswa.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda