TANGERANG — Ribuan warga Kabupaten Tangerang menghadapi ancaman kesehatan serius akibat kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melarang siapa pun beraktivitas dalam radius 1,7 kilometer dari lokasi kebakaran, dengan alasan kualitas udara telah melampaui standar nasional hingga 18 kali lipat.
Data pemantauan real-time menunjukkan partikulat halus PM2.5 mencapai 1.000 mikrogram per meter kubik—sementara standar aman hanya 55 mikrogram per meter kubik. “Ini lebih parah dari kebakaran hutan biasa,” ujar pejabat KLH saat mengumumkan hasil pengukuran tersebut. Dampaknya langsung: ribuan keluarga terancam gangguan pernapasan akut, dari batuk hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Polusi Ganda: PM2.5 dan PM10 Melampaui Batas
Dua parameter polusi sama-sama menembus ambang bahaya. PM10 (partikulat kasar) tercatat 750 dari standar ideal 75. PM2.5 (partikulat sangat halus yang menembus paru-paru) mencapai 1.000 dari standar 55. Angka-angka ini bukan sekadar laporan teknis—setiap lonjakan berarti lebih banyak warga yang mengalami sesak napas dan batuk kronis.
Penyebab polusi parah ini terletak pada apa yang terbakar: timbunan sampah mengandung plastik dalam jumlah besar. Ketika plastik menyala, ia melepaskan nitrogen oksida (NOx) dan sulfur oksida (SOx)—gas beracun yang tidak dihasilkan kebakaran hutan alami.
Ditambah biomassa dari penguraian sampah dan metana yang terperangkap, kombinasi ini menciptakan “bom asap” multisenyawa yang belum pernah dialami wilayah ini sebelumnya.
Berbeda dengan kebakaran hutan dan lahan biasa yang didominasi material organik alami, TPA yang terbakar melepaskan semua bahan di dalamnya: plastik, logam, limbah medis, dan zat kimia industri. Reaksi pembakaran menciptakan asap yang menyerang sistem pernapasan dari berbagai sudut sekaligus, membuat dampak kesehatan jauh lebih parah.
Puncak Polusi di Siang Hari, Bahaya Berlanjut Malam
Pengamatan laboratorium KLH menunjukkan pola konsentrasi partikulat tertinggi saat matahari terik siang hari. Asap terangkat lebih tinggi dan tersebar luas, mencakup area perumahan yang jauh. Namun bahaya tidak berhenti saat sore—di malam hari, asap mengendap di lapisan udara rendah, menempel pada permukiman yang topografinya lebih rendah.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.