Selasa, 7 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Macron Kunjungi Suriah Pertama Kali Pasca Jatuhnya Assad

Macron Kunjungi Suriah Pertama Kali Pasca Jatuhnya Assad
Macron Kunjungi Suriah Pertama Kali Pasca Jatuhnya Assad. (Ilustrasi: AI)

DAMASKUS — Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba di Suriah pada Senin untuk kunjungan bersejarah: pertama kalinya seorang pemimpin besar negara Eropa Barat datang sejak pemerintah baru Suriah berkuasa setelah jatuhnya Bashar al-Assad pada Desember 2024.

Kunjungan ini menandai gerak diplomatik penting untuk menormalisasi hubungan internasional Suriah yang sudah hancur akibat 13 tahun perang saudara.

Macron akan tinggal hingga Selasa. Kemarin malam, dia dan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa mengunjungi Masjid Umayyah yang ikonik di pusat kota, sebelum pertemuan resmi dijadwalkan hari ini. “Saya datang untuk menegaskan kembali komitmen Prancis kepada rakyat Suriah. Kepada Suriah yang berdaulat, bersatu dalam keragaman, dan damai dengan tetangganya,” tulis Macron di media sosial.

Kunjungan ini adalah langkah signifikan dalam upaya al-Sharaa memulihkan reputasi internasional Suriah yang terpuruk. Agensi berita negara Suriah (SANA) menyebut kunjungan Macron sebagai “langkah pivotal dalam proses mengembalikan kehadiran internasional Suriah.”

Pertama Sejak Jatuhnya Rezim Assad

Kunjungan Macron membedakan Prancis sebagai negara Eropa Barat pertama yang menunjukkan keterlibatan langsung di tingkat kepemimpinan.

Sebelumnya, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy berkunjung ke Suriah pada 2009—sembilan belas tahun lalu—sebelum Assad merancang pengekangan brutal terhadap protes pro-demokrasi pada 2011 yang memicu bencana kemanusiaan. Lebih dari setengah juta orang tewas dalam konflik yang menyusul.

Infrastruktur, ekonomi, dan institusi negara Suriah hancur total.

Kedatangan Macron menunjukkan bahwa komunitas internasional, khususnya Eropa, mulai mempertimbangkan normalisasi hubungan dengan pemerintah baru Suriah di bawah kepemimpinan al-Sharaa. Pemimpin baru ini diakui sebagai seorang modernis yang berusaha merekonsolidasikan negara yang terpecah-pecah dan terisolasi di panggung dunia.

Tantangan Keamanan dan Rekonstruksi

Namun, pemerintah Suriah yang masih baru menghadapi tantangan keamanan serius. Minggu lalu, ledakan bom di sebuah kafe di Damaskus menewaskan beberapa orang—insiden terbaru yang menunjukkan instabilitas yang masih berlanjut meski perang sudah berakhir.

Otoritas Suriah, yang berafiliasi Islamis, masih bekerja untuk menyatukan kembali negara yang terbagi selama lebih dari 13 tahun akibat pertarungan berbagai faksi dan intervensi pihak asing.

Kunjungan tingkat tinggi dari pemimpin Eropa Barat seperti Macron mengirimkan sinyal bahwa investasi dan kemitraan internasional mungkin akan kembali ke Suriah—aset krusial untuk pembangunan kembali ekonomi yang sedang sekarat. Prancis, dengan sejarah diplomasi Timur Tengah yang panjang, melihat kepentingan strategis dalam membantu Suriah menstabilkan diri dan kembali ke komunitas global.

Pertemuan resmi antara Macron dan al-Sharaa hari ini dijadwalkan membahas berbagai isu: keamanan, investasi ekonomi, dan posisi Suriah dalam arsitektur regional. Kunjungan ini akan menentukan apakah Prancis dan negara-negara Eropa lainnya siap memberikan dukungan diplomatik dan finansial kepada rezim baru Suriah dalam fase pemulihan yang kritis ini.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram