Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Kemenko ajak warga pilah sampah mitigasi kebakaran TPA

Kemenko ajak warga pilah sampah mitigasi kebakaran TPA
Gerakan pilah sampah di Bali menjadi upaya mitigasi kebakaran TPA menjelang musim kemarau. (Foto: Ilustrasi). Foto: Wikimedia Commons

DENPASAR — Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) meluncurkan gerakan pilah sampah masif di Bali untuk mencegah kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA). Langkah ini menjadi respons nyata atas meningkatnya insiden kebakaran TPA jelang musim kemarau.

“Sore ini kita akan melakukan pilah sampah se-Bali. Satu-satunya yang kita tawarkan hari ini adalah Bali bersih, tidak bisa ditawar-tawar lagi,” kata Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq saat apel di Denpasar, Selasa.

Kebakaran TPA Meningkat Menjelang Musim Kering

Data menunjukkan masalah ini bukan soal baru. Pada 2023 saja, tercatat 35 TPA di seluruh Indonesia terbakar. Di Bali, TPA Suwung pernah mengalami kebakaran seluas 32 hektare yang menciptakan pencemaran lingkungan masif. Kini, krisis berulang — TPA Tangerang baru saja terbakar selama tujuh hari dengan api yang terus membara.

“Kondisi hari ini perubahan iklim sudah ke musim kemarau. Ini membayangi TPA dengan potensi kebakaran. Apa yang sudah terjadi di Tangerang mengharuskan kita semua untuk segera melakukan langkah-langkah antisipasi dengan tertib dan sistematis,” ujar Hanif.

Masalahnya sederhana namun serius: sampah organik yang menumpuk di TPA menjadi pemicu utama kebakaran. Ketika sampah organik terbakar, ia menghasilkan gas metana berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan masyarakat sekitar.

Pilah Sampah: Solusi Mitigasi dan Ekonomi

Kemenko Pangan tidak hanya memikirkan pencegahan kebakaran. Hanif menekankan bahwa gerakan pilah sampah membawa manfaat ekonomi ganda. Sampah organik yang terpilah dapat diubah menjadi penyubur tanah dan pakan ternak. Sampah anorganik yang terpisah memiliki nilai jual dan dapat diolah lebih lanjut.

“Setelah sampah terpilah, masyarakat juga akan mendapat manfaat besar dan nilai ekonomi,” jelasnya.

Bali bukanlah pilihan lokasi sembarangan. Provinsi yang menjadi ikon pariwisata Indonesia ini memiliki tanggung jawab ganda: mencegah kebakaran TPA sekaligus menjaga citra lingkungan di mata dunia. “Bali merupakan wajah Indonesia di mata dunia. Selain memilah sampah untuk mengantisipasi kebakaran TPA, penting untuk menjaga citra pariwisata,” kata Hanif.

Inisiatif Denpasar dan Badung yang telah mengurangi pengangkutan sampah ke TPA Suwung dan memilah organik-anorganik dianggap positif namun masih belum cukup dalam skala provinsi.

Bali Jadi Percontohan Nasional

Gubernur Bali Wayan Koster menyambut penunjukan Bali sebagai pilot project dengan antusias. Ia menekankan bahwa kunci sejati bukan menyelesaikan masalah di hilir (TPA) melainkan di hulu — sejak sampah dihasilkan. “Kami ingin memastikan sampah selesai di tempatnya dihasilkan baik itu di rumah tangga, desa, pasar, hotel, restoran, kafe, rumah ibadah, sekolah, dan perkantoran,” katanya.

Bagi Pemprov Bali, pilah sampah bukan sekadar tindakan teknis. Ini merupakan wujud kesadaran, tanggung jawab, dan budaya baru bagi warga Bali — sebuah komitmen untuk menjaga kesucian serta keharmonisan alam.

Dengan momentum ini, Kemenko Pangan berharap gerakan pilah sampah akan menyebar dari Bali ke daerah lain di Indonesia, menciptakan rantai pengelolaan sampah yang lebih efektif dan mengurangi risiko kebakaran TPA jelang musim kemarau tahun ini.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda