ANKARA, JOURNALARTA.COM – Donald Trump mengancam akan menarik pasukan AS dari Eropa dan kembali mendorong gagasan penguasaan Greenland saat tiba di KTT NATO di Ankara, Turki, pada Selasa waktu setempat. Pernyataan itu ia lontarkan di depan wartawan dan langsung memanaskan hubungan Washington dengan sekutu-sekutu Atlantik Utara.
Ancaman tarik pasukan AS itu datang di saat Inggris dan negara-negara Eropa berusaha keras menjaga agar pertemuan NATO tidak berubah menjadi adu keras lain dengan presiden Amerika Serikat. Dampaknya bukan cuma soal diplomasi. Isu ini menyentuh langsung masa depan keamanan Eropa, pembagian beban pertahanan, dan arah kerja sama militer di kawasan yang kini menghadapi tekanan Rusia, ketegangan Timur Tengah, sampai pergeseran sikap politik di dalam aliansi.
Trump kembali tekan sekutu NATO
Trump menyatakan komitmen AS untuk membela Eropa mulai tergerus oleh keputusan politik para pemimpin Eropa, terutama terkait imigrasi dan kebijakan energi. Ia juga menuding sejumlah negara sekutu belum bergerak cukup cepat untuk memenuhi target belanja pertahanan yang ia dorong, yakni 3,5 persen dari PDB pada 2035.
“Saya sangat kecewa pada NATO. Kami tidak diperlakukan dengan baik saat bertindak di Iran,” kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip dari pernyataannya di Ankara.
Ia menegaskan AS tidak membutuhkan bantuan dalam operasi itu, namun sekutu disebut sudah lebih dulu menyatakan tidak akan mendukung.
Trump juga menyentil Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Ia mengaitkan keputusan London yang tidak ikut perang melawan Iran dengan turunnya dukungan politik di dalam negeri Inggris. Pernyataan itu memicu kesan bahwa Trump hendak menjadikan konflik Iran sebagai alat tekan untuk menegosiasikan ulang komitmen keamanan NATO.
Greenland kembali jadi sumber gesekan
Di sela kritiknya kepada NATO, Trump menghidupkan lagi dorongan lama agar Amerika Serikat mengambil alih Greenland. Wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark itu selama bertahun-tahun menjadi titik sensitif antara Washington, Kopenhagen, dan pemerintahan lokal di Greenland sendiri.
Trump menilai Greenland punya nilai strategis besar bagi AS karena posisinya di kawasan Arktik yang makin ramai oleh kehadiran kapal Tiongkok dan Rusia. Ia menyebut Denmark tidak cukup membangun wilayah.
“Wilayah itu seharusnya dikelola oleh AS, bukan Denmark,” tegasnya.
Nada yang dipakai Trump terdengar keras. Ia bahkan berkata AS bisa saja memulangkan seluruh pasukan dari Eropa bila sekutu tetap menolak tuntutan Washington.
“Kami tidak wajib mengeluarkan uang sepeser pun,” ujarnya.
Ia lalu memperingatkan Eropa agar berhati-hati dalam mengelola imigrasi dan energi.
Reaksi London dan beban pertahanan Eropa
Inggris menolak keras kritik Washington. Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves menegaskan masa depan Greenland ada di tangan rakyat Greenland dan Denmark, bukan presiden AS.
“Saya sudah menegaskan hal ini sejak pertama kali usulan itu muncul,” kata Reeves.
Di balik adu ucapan itu, ada persoalan yang jauh lebih besar yakni uang. Negara-negara Eropa sedang ditekan untuk memperbesar anggaran pertahanan, sementara banyak pemerintah masih bergulat dengan perlambatan ekonomi dan kebutuhan fiskal domestik. Inggris pun menghadapi dilema serupa. Partai Buruh kesulitan mencari ruang anggaran untuk memenuhi ekspektasi NATO tanpa memperlebar tekanan pada kas negara.
Trump diperkirakan akan kembali menegur sekutu Eropa, termasuk Inggris, karena dinilai belum cukup berupaya mencapai target belanja pertahanan. Dalam perdebatan NATO, angka 3,5 persen PDB bukan sekadar target teknis. Angka itu menentukan siapa yang menanggung biaya keamanan Eropa dan sejauh mana AS masih mau memikul beban yang selama ini dinilai terlalu berat.
Dampak langsung bagi Eropa dan sekutu AS
Ancaman tarik pasukan AS dari Eropa punya dampak praktis yang besar. Pangkal pertanyaannya sederhana: jika ribuan tentara Amerika benar-benar dikurangi, siapa yang mengisi celah pertahanan di darat, laut, dan udara? Negara-negara Eropa belum punya jawaban cepat. Banyak dari mereka masih bergantung pada logistik, intelijen, dan payung nuklir AS. Tanpa itu, daya cegah NATO bisa turun tajam, terutama di sayap timur yang paling sensitif terhadap ancaman Rusia.
Di level politik, ancaman Trump juga membuat sekutu makin sulit membaca arah Washington. Satu hari AS menekan soal anggaran. Hari berikutnya, ia mengaitkan pertahanan dengan isu imigrasi, energi, sampai Greenland. Bagi pasar dan pemerintah Eropa, ketidakpastian ini punya konsekuensi nyata: rencana belanja pertahanan bisa berubah, negosiasi antarnegara makin alot, dan investasi industri militer ikut terdorong naik karena semua pihak bersiap pada skenario terburuk.
Perang Iran yang disebut Trump pun ikut menambah retakan di dalam aliansi. Saat satu anggota ingin bergerak cepat, anggota lain memilih menahan diri. Itu bukan detail kecil. Dalam NATO, perbedaan semacam ini bisa menentukan seberapa solid aliansi saat krisis muncul. Dan kali ini, Ankara menjadi panggung baru untuk memperlihatkan bahwa hubungan AS dan sekutunya belum benar-benar pulih.
“Mengapa kami harus mengeluarkan ratusan miliar dolar sementara mereka tidak ada saat kami butuh? Kami selalu ada untuk mereka,” kata Trump.
Kalimat itu menutup hari yang berat bagi NATO, dengan Greenland, Iran, dan ancaman tarik pasukan AS kembali menempel di meja negosiasi.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.