MANILA — Sidang pemakzulan Wakil Presiden Filipina Sara Duterte dimulai dengan tantangan besar: para jaksa harus mengamankan minimal 16 suara dari 24 anggota Senat untuk menyatakannya bersalah. Masalahnya, loyalitas senat masih cair dan belum pasti ke arah mana akan bergerak.
Pengacara dan analis hukum mengatakan konviksi terhadap Duterte-Carpio sebenarnya bukan mustahil, tapi juga bukan perkara mudah meski muatan tuduhannya cukup serius. Senat yang terbagi faktif menjadi hambatan utama para penuntut.
Dewan Perwakilan Rakyat Filipina secara resmi memakzulkan Duterte pada 11 Mei lalu dengan empat artikel dakwaan. Pertama, pelanggaran konstitusi 1987 melalui penyalahgunaan dana gelap senilai 612,5 juta peso (sekitar 10 juta dolar AS) dari kantornya saat menjadi menteri pendidikan.
Kedua, dakwaan tentang kekayaan yang tidak dapat dijelaskan senilai miliaran peso dan melampaui apa yang dia laporkan di dokumen daftar harta milik. Ketiga, Duterte didakwa membiarkan kepentingan bisnis yang tidak divestasikan sebagaimana diwajibkan hukum.
Dakwaan keempat adalah kasus penyuapan. Saat menjabat menteri pendidikan, dia diduga memberikan uang tunai kepada bawahan untuk membujuk mereka menerobos aturan pengadaan barang.
Ancaman ke Masa Depan Politik
Jika terbukti bersalah, Duterte tidak hanya akan dicopot dari jabatan wakil presiden, melainkan juga dilarang secara permanen untuk menjabat kantor publik apapun. Ini berarti rencananya mencalonkan diri sebagai presiden di pemilu 2028 akan berakhir.
Sayangnya, hasil survei publik terbaru menunjukkan posisi Duterte masih kuat. Sebanyak 51 persen responden dalam jajak pendapat akhir Mei menyatakan akan memilihnya sebagai presiden di pemilu yang akan datang. Angka tersebut membuatnya tetap menjadi calon presiden terdepan meski menghadapi ujian serius ini.
Polisi mengerahkan lebih dari 6.000 petugas, termasuk skuad anti-kerusuhan, untuk menjaga keamanan gedung Senat selama persidangan berlangsung. Demonstran pendukung dan penentang Duterte telah bergerak menuju lokasi. Analisis dari pengamat politisi lokal menunjukkan ketegangan luar biasa menyelimuti acara ini.
Sejarah Perseteruan Dua Dinasti
Duterte dan Presiden Ferdinand Marcos Jr adalah pasangan pemilihan umum tahun 2022 yang menang dengan margin besar. Aliansi kilat antara dua dinasti politik paling berpengaruh di Filipina itu merupakan kombinasi kekuatan pemilih yang luar biasa pada waktu itu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.