Kamis, 16 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Henry Manampiring Ungkap Makna di Balik Judul Filosofi Teras, Bukan tentang Arsitektur

Makna judul Filosofi Teras dijelaskan Henry Manampiring
Henry Manampiring menjelaskan asal-usul judul Filosofi Teras saat konferensi pers film adaptasinya. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Judul Filosofi Teras ternyata punya cerita panjang di balik namanya. Henry Manampiring menjelaskan, buku yang kini diadaptasi menjadi film itu sempat disangka buku desain arsitektur karena kata “teras” yang melekat di judulnya.

Penjelasan itu disampaikan Henry dalam press conference teaser poster dan trailer film Filosofi Teras pada Minggu, 12 Juli 2026. Buku mega best seller tersebut juga disebut akan hadir di layar lebar dengan Sherina sebagai salah satu bintang yang terlibat.

Filosofi Teras dan asal nama yang bikin salah paham

Rasa penasaran soal judul buku itu memang muncul sejak awal. Henry mengaku judul Filosofi Teras terdengar unik, bahkan sempat bikin bukunya ditaruh di rak desain arsitektur saat pertama kali terbit.

“Memang judulnya aneh ya Mbak ya. Waktu pertama kali terbit itu buku ditaruhnya di rak desain arsitektur,” kata Henry sambil terkekeh, dikutip dari Liputan6.com.

Soal nama, Henry menegaskan ada alasan yang sangat spesifik. Ia merujuk pada stoisisme, aliran filsafat Yunani-Romawi kuno yang menekankan kemampuan mengendalikan emosi dan menjaga ketenangan batin. Di situlah titik masuk judul ini.

“Jadi ini kan tentang aliran filsafat stoa. Konon alkisah 2.300 tahun yang lalu mereka kalau lagi belajar filsafat itu sukanya ngumpul di teras berpilar. Di Agora, semacam alun-alun kota. Ada gedung, ada beranda, ada terasnya. Nah teras itu bahasa Yunani-nya Stoa Poikile,” ujar Henry.

Ia lalu memilih terjemahan harfiah dari kata tersebut agar lebih akrab di telinga pembaca Indonesia. Bukan “filsafat Stoa” yang terdengar lebih asing, melainkan Filosofi Teras yang langsung memunculkan gambaran tempat berkumpul dan belajar.

“Jadi sebenarnya aliran Stoa itu terjemahan harfiahnya orang-orang yang ngumpul di teras. Saya pikir saya daripada judul bukunya filsafat Stoa, asing, saya ambil harfiahnya, Filosofi Teras,” ucapnya.

Dari buku, lalu bergerak ke film

Di titik ini, judul yang semula dianggap nyeleneh justru menemukan tempatnya. Ia tidak berdiri sendiri sebagai permainan kata. Judul itu menjembatani gagasan filsafat yang berat dengan bahasa yang lebih dekat ke keseharian.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda