JAKARTA — film The Odyssey garapan Christopher Nolan belum tayang, tapi riuhnya sudah terasa sampai ke penjualan tiket. Menurut laporan PBS NewsHour, proyek yang digadang-gadang jadi salah satu film terbesar tahun ini itu sudah memecahkan rekor tiket di fase awal penjualan.
Film ini dibangun dengan skala jumbo. Biayanya dilaporkan sekitar 250 juta dolar AS, dengan Matt Damon sebagai Odysseus, Anne Hathaway sebagai Penelope, serta deretan bintang lain untuk menghidupkan perjalanan pulang yang panjang dan berliku dari perang Troya ke Ithaca.
Film The Odyssey dan daya tarik kisah 3.000 tahun
Yang membuat antusiasme ini menarik bukan cuma nama Nolan. Kisah yang diangkatnya berasal dari epik kuno yang dikaitkan dengan Homer dan berusia hampir 3.000 tahun. Di tengah ledakan promosi film modern, cerita lama ini tetap punya tenaga yang sama: perjalanan pulang, kehilangan, dan keinginan untuk kembali ke rumah.
Jeffrey Brown dari PBS NewsHour berbincang dengan Emily Wilson, sarjana klasik dari University of Pennsylvania yang menerjemahkan Odyssey dan Iliad. Wilson menilai inti cerita itu bukan sekadar petualangan laut dan monster, melainkan rumah, komunitas, dan siapa yang layak merasa memiliki tempat.
“It’s about community. It’s about who belongs in a particular place, what it means to have a home. And it’s about the relationship between hosts and guests,” kata Wilson dalam wawancara tersebut.
Kalimat itu menjelaskan kenapa kisah Odysseus terus hidup. Orang bisa datang dan pergi, zaman berubah, tapi pertanyaan tentang pulang, diterima, dan diakui tetap sama. Itu sebabnya film The Odyssey terasa relevan bukan hanya untuk penonton pecinta mitologi, tetapi juga untuk audiens yang akrab dengan tema keluarga dan identitas.
Christopher Nolan dan cara baru membaca epos klasik
Nolan tidak datang dengan pendekatan museum. Ia dikenal sebagai sutradara yang suka memadukan tontonan besar dengan gagasan yang rumit. Dalam bahan promosi yang beredar, film ini juga memunculkan perbincangan soal penggunaan aksen Amerika dan dialog yang lebih modern. Bagi sebagian orang, itu terasa berani. Bagi yang lain, itulah cara agar cerita kuno bisa bicara ke penonton hari ini.
Wilson melihat langkah semacam itu bukan penyimpangan aneh. Menurut dia, cerita Homer sendiri sudah berkali-kali dihidupkan ulang sejak zaman Yunani kuno, termasuk di panggung drama Athena. Aeschylus dan Euripides, kata dia, juga mengambil mitos lama lalu membentuknya ulang agar cocok dengan konteks zamannya.
“Different media can say different things. Film is a visual storytelling medium in a way that epic poetry is not,” ujar Wilson. Di titik ini, film The Odyssey tidak sekadar jadi adaptasi, tapi juga perdebatan tentang cara menceritakan mitos pada generasi baru.
Dan memang, layar lebar punya kekuatan yang berbeda. Laut bisa dibuat terasa mengancam. Perjalanan bisa dibuat panjang tanpa terasa. Wajah para tokoh bisa menyimpan kelelahan, rindu, juga curiga, dalam satu tatapan singkat.
Apa artinya buat penonton dan industri film
Antusiasme awal terhadap film The Odyssey memberi sinyal yang cukup jelas untuk industri hiburan. Studio masih percaya pada film besar yang bertumpu pada cerita klasik, asalkan dibungkus dengan bintang papan atas, skala produksi tinggi, dan nama sutradara yang punya reputasi kuat.
Ini penting karena pasar film beberapa tahun terakhir sangat bergantung pada waralaba, remake, dan judul yang sudah punya basis penggemar.
Buat penonton, film seperti ini biasanya jadi pintu masuk ke teks lama yang mungkin selama ini cuma terdengar di ruang kelas. Banyak orang mengenal Odysseus sebatas tokoh petualang. Padahal, seperti dijelaskan Wilson, yang membuatnya abadi justru kerumitannya.
Ia licik, rapuh, cerdik, dan bisa tampil sebagai banyak sosok sekaligus. Tokoh seperti itu mudah dipahami penonton modern yang juga hidup di dunia penuh peran dan identitas yang bergeser.
Perdebatan tentang pemilihan Lupita Nyong’o sebagai Helen of Troy juga ikut memperlihatkan bagaimana kisah kuno ini masih memancing pembacaan baru. Wilson menilai wajar bila orang menafsirkan ulang sosok Helen, karena sejak awal tokoh itu tidak lahir dari realisme biasa. Helen adalah putri Zeus, sosok mitologis yang memang berada di wilayah imajinasi, bukan katalog sejarah.
“It seems to me that it’s not entirely unambiguous that a daughter of Zeus must look a particular way,” kata Wilson. Ucapan itu menutup satu lapisan diskusi lain: film ini bukan cuma soal nostalgia, tapi juga soal siapa yang berhak mewujudkan mitos di layar dan bagaimana mitos itu dibaca ulang oleh penonton masa kini.
Dengan cerita yang sudah bertahan ribuan tahun dan produksi yang dipasang besar-besaran, mata publik kini tinggal menunggu satu hal: apakah Nolan bisa membuat pulang-pergi Odysseus terasa baru tanpa kehilangan denyut aslinya saat film itu akhirnya dirilis.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.