Senin, 20 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Insentif Kendaraan Listrik 2026 Mundur ke Juli, Penjualan EV Justru Meledak 69,4%

Insentif Kendaraan Listrik 2026
Insentif Kendaraan Listrik 2026 Mundur ke Juli, Penjualan EV Justru Meledak 69,4%. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Pemerintah resmi menunda insentif kendaraan listrik ke Juli 2026. Jadwal yang semula ditargetkan berjalan pada Juni 2026 itu mundur satu bulan, sementara insentif untuk motor listrik bahkan baru dibidik pada Agustus 2026.

Penundaan ini terjadi saat pasar justru bergerak kencang. Sepanjang semester I 2026, penjualan kendaraan elektrifikasi di Indonesia naik 69,4 persen dan tembus 117.108 unit, sehingga keputusan pemerintah ikut memberi sinyal penting bagi konsumen dan industri yang sudah menanti kepastian skema stimulus.

Insentif kendaraan listrik mundur sebulan

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi program insentif EV mengalami penundaan satu bulan. Program yang semula dijadwalkan mulai pada Juni 2026 kini digeser ke Juli 2026.

Untuk motor listrik, targetnya bergeser lagi ke Agustus 2026. Pemerintah masih melakukan kalkulasi dan pematangan anggaran sebelum skema itu benar-benar dijalankan.

Skema kuota tetap 200.000 unit

Meski jadwalnya mundur, rancangan insentif belum berubah. Pemerintah menyiapkan kuota 200.000 unit kendaraan listrik, yang dibagi rata untuk motor dan mobil listrik.

Rinciannya, 100.000 unit motor listrik akan mendapat subsidi langsung Rp5 juta per unit. Sementara itu, 100.000 unit mobil listrik akan menerima insentif PPN DTP 40 persen sampai 100 persen, tergantung jenis baterainya.

Mobil berbasis baterai nikel atau NMC mendapat PPN DTP 100 persen. Untuk jenis baterai lain, insentifnya 40 persen.

Pasar justru tumbuh cepat

Data Gaikindo menunjukkan pasar kendaraan elektrifikasi tidak melambat. Pada Januari-Juni 2026, penjualan xEV mencapai 117.108 unit, naik 69,4 persen dibanding 69.134 unit pada semester I 2025.

Di dalamnya, penjualan BEV mobil listrik murni tercatat 69.739 unit atau naik 80,8 persen. HEV menyumbang 42.366 unit dengan kenaikan 47 persen, sedangkan PHEV mencapai 5.003 unit dan melonjak 187 persen.

Pangsa pasar xEV kini sudah 26,8 persen dari total pasar otomotif nasional. Angka ini membuat penundaan insentif menjadi penting, karena keputusan pemerintah bisa memengaruhi ritme pembelian di paruh kedua tahun ini.

Dampaknya ke industri otomotif

Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menilai penundaan insentif membuat calon konsumen cenderung menunggu sebelum membeli. Di sisi lain, ia juga mengapresiasi rencana stimulus itu karena bisa menjaga minat pasar.

Bagi industri, jeda satu atau dua bulan bukan sekadar soal jadwal. Produsen, dealer, dan calon pembeli sama-sama menunggu kepastian anggaran dan detail pelaksanaan, terutama karena skema yang disiapkan pemerintah menyasar volume besar dan menyentuh dua segmen utama, motor serta mobil listrik.

Pemerintah juga mendorong hilirisasi baterai NMC berbasis nikel untuk memperkuat ekosistem EV nasional. Dengan pasar yang sudah tumbuh cepat, arah kebijakan berikutnya akan ikut menentukan seberapa jauh insentif kendaraan listrik mampu menjaga laju penjualan sampai akhir 2026.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda