Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Mbappe Pecahkan Rekor Gol Piala Dunia, Tapi Kecewa Gagal ke Final

Kylian Mbappe terlihat kecewa setelah laga Prancis melawan Inggris
Kylian Mbappe saat laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 di Miami Gardens. (Ilustrasi: AI)

Kylian Mbappe melangkah keluar dari rumput Stadion Hard Rock, Miami Gardens, dengan kepala tertunduk lesu. Di balik keriuhan stadion yang baru saja menyaksikan drama delapan gol, ia resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.

Koleksi 22 gol miliknya kini melampaui rekor 21 gol Lionel Messi. Sebuah catatan sejarah yang lahir di tengah situasi paling pahit bagi seorang atlet: kekalahan di depan mata.

Malam itu, Sabtu (18/7/2026), Prancis harus mengakui keunggulan Inggris dengan skor telak 6-4 dalam laga perebutan tempat ketiga.

Dua gol yang dilesakkan Mbappe pada menit ke-48 dan menit ke-66 memang mengangkat namanya ke puncak tertinggi, namun angka-angka di papan skor jauh lebih penting bagi kapten berusia 27 tahun tersebut. Baginya, trofi adalah segalanya.

Status pencetak gol terbanyak hanyalah penghibur kecil yang terasa hambar setelah mimpinya mengangkat piala kandas di babak semifinal.

Pertunjukan Paradoks di Lapangan

Pertandingan itu sendiri berjalan di luar nalar. Prancis benar-benar hancur pada babak pertama. Pertahanan mereka luluh lantak hingga tertinggal 4-0. Stadion yang riuh mendadak sunyi bagi pendukung Les Bleus. Namun, Mbappe menolak menyerah.

Ia membakar semangat rekan-rekannya untuk melakukan comeback yang mustahil. Selain dua gol sang kapten, Bradley Barcola dan Ousmane Dembele turut menyumbang skor untuk memperkecil ketertinggalan.

Ada catatan statistik lain yang terselip dalam kekacauan tersebut. Michael Olise, gelandang Prancis, berhasil menorehkan tujuh assist sepanjang turnamen. Angka ini secara resmi memecahkan rekor assist terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia yang sebelumnya dipegang Pele sejak 1970 dengan enam assist. Sebuah pencapaian impresif yang terbenam oleh hasil akhir pertandingan.

Mbappe tidak menutupi rasa kecewanya saat ditemui wartawan usai laga. Ia mengakui performa tim pada babak pertama adalah sebuah bencana. “Kami kehilangan fokus, bermain jauh di bawah standar kami,” ucapnya singkat. Ia merasa tanggung jawab besar ada di pundaknya, dan kekalahan ini menjadi beban berat yang sulit dilepaskan begitu saja.

Ujung Era Deschamps

Laga melawan Inggris bukan sekadar perebutan medali perunggu. Ini adalah titik akhir bagi Didier Deschamps. Sang pelatih resmi mengakhiri perjalanan 14 tahun menakhodai timnas Prancis. Selama lebih dari satu dekade, Deschamps menjadi otak di balik kesuksesan Prancis, termasuk gelar juara dunia pada 2018 dan posisi runner-up pada 2022. Kini, kursi panas tersebut harus ditinggalkannya.

Di ruang ganti yang dipenuhi isak tangis, Deschamps tetap membela anak asuhnya. Ia pasang badan untuk Mbappe dari berbagai kritik yang mungkin muncul. Menurutnya, Mbappe adalah pemimpin yang luar biasa dan terus menunjukkan perkembangan personal yang matang. Deschamps meninggalkan tim dengan warisan besar, meski menutupnya dengan kekalahan menyakitkan di Miami.

Sekarang, spekulasi mulai liar bergulir. Publik Prancis sudah tidak sabar menantikan siapa yang akan memegang tongkat estafet. Nama Zinedine Zidane disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk membawa perubahan.

Pergantian kepemimpinan ini menjadi harapan satu-satunya bagi penggemar untuk melihat Prancis kembali ke jalur juara, terutama setelah langkah mereka dihentikan Spanyol pada babak semifinal pekan lalu.

Dengan berakhirnya turnamen bagi Prancis, Mbappe kini mengumpulkan 10 gol secara total di edisi 2026. Ia memimpin perburuan Golden Boot, unggul dua gol dari para pesaingnya. Angka ini akan menjadi ujian terakhir saat Argentina berhadapan dengan Spanyol di partai puncak pada Minggu (19/7/2026).

Dunia akan melihat apakah rekor gol Mbappe tetap bertahan atau justru tersalip di menit-menit akhir oleh pemain lain yang masih punya satu pertandingan tersisa.

Di luar statistik, Mbappe sudah memahat namanya sebagai striker paling mematikan di era modern. Namun, bagi sang pemain, rekor hanyalah angka di buku sejarah. Ia tidak bermain untuk menjadi yang terbaik secara individu; ia bermain untuk menjadi juara. Kegagalan mencapai final di tanah Amerika Serikat akan menjadi cerita yang menghantui kariernya selama beberapa tahun ke depan.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda