Senin, 20 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Komisi II DPR Minta KPI ASN Ditingkatkan Demi Kompetitivitas Birokrasi

Komisi II DPR Minta KPI ASN Ditingkatkan Demi Kompetitivitas Birokrasi
Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda

Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, mendadak riuh saat Komisi II DPR RI melontarkan kritik pedas terhadap kinerja aparatur sipil negara (ASN) pada Rabu (15/7/2026).

Para wakil rakyat menuntut perombakan total pada sistem indikator kinerja utama atau Key Performance Indicator (KPI) bagi seluruh pegawai, baik PNS maupun PPPK. Desakan ini muncul bukan tanpa alasan; kualitas layanan birokrasi di banyak daerah dianggap macet dan jauh tertinggal dari tuntutan zaman.

Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, menegaskan bahwa pola kerja ASN saat ini tidak bisa lagi dibiarkan melenggang santai. Ia bahkan mewacanakan sistem seleksi berbasis hasil yang lebih brutal. “Orang bekerja itu memang pakai KPI. Bagus, kita pertahankan. Tidak bagus, ya out,” ujar Rifqinizamy dengan nada lugas dalam rapat kerja bersama KemenPAN-RB, BKN, dan LAN.

Mentalitas Ngopi dan Absen

Rifqinizamy membeberkan realita pahit di lapangan. Menurutnya, investasi triliunan rupiah untuk infrastruktur digital birokrasi terasa sia-sia karena tidak dibarengi dengan perubahan karakter pegawai. Teknologi canggih telah tersedia, namun mentalitas di dalamnya masih terjebak pada rutinitas purba.

Ia menyebut banyak ASN yang hanya datang untuk melakukan absensi, kemudian menghabiskan waktu dengan sekadar mengopi, lalu pulang setelah melakukan absensi sore.

Bagi politikus Partai NasDem ini, digitalisasi hanyalah bungkus luar. Tanpa adanya perombakan mentalitas sumber daya manusia, sistem digital secanggih apa pun tidak akan mampu mendongkrak produktivitas. Ia mendesak agar aturan yang lebih ketat, termasuk konsekuensi hukuman yang konkret bagi mereka yang gagal memenuhi KPI, segera dimasukkan ke dalam revisi UU ASN mendatang.

Kompetitivitas birokrasi kini menjadi pertaruhan. Rifqinizamy secara terbuka membandingkan profesionalisme ASN dengan sektor swasta yang dipaksa bertahan oleh mekanisme pasar.

Ia menilai birokrasi kita saat ini cenderung terjebak pada stabilitas jabatan tanpa ada dorongan untuk berinovasi atau mencapai target yang terukur. Dampaknya, rakyat sebagai penerima layanan lah yang harus menanggung kerugian paling besar.

Beban Gaji yang "Mengepung" APBD

Persoalan kinerja ini berkelindan dengan masalah anggaran yang kronis. Komisi II menyoroti proporsi gaji pegawai di banyak daerah yang sudah menyedot porsi APBD terlalu dalam. Akibatnya, alokasi dana untuk pembangunan fisik seperti perbaikan jalan, sektor pendidikan, hingga peningkatan layanan kesehatan menjadi tersandera.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda