Jumat, 24 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Donald Trump Siapkan Tarif Impor Baru pada Jumat Ini

Donald Trump Siapkan Tarif Impor Baru pada Jumat Ini
Foto: David Vives/Unsplash

Gedung Putih bergerak cepat. Presiden Donald Trump dijadwalkan bakal memberlakukan tarif impor baru untuk produk dari puluhan negara pada Jumat mendatang. Keputusan ini diambil sebagai langkah taktis untuk memastikan rezim perdagangan Amerika Serikat tetap berjalan tanpa hambatan, tepat saat kebijakan tarif sementara sebesar 10 persen segera habis masa berlakunya.

Rencana ini merupakan kelanjutan dari usulan bulan lalu. Saat itu, pemerintahan Trump mencanangkan bea masuk minimal 10 persen bagi setidaknya 60 mitra dagang. Alasan utamanya cukup spesifik: standar ketenagakerjaan paksa yang dinilai terlalu longgar di negara asal barang-barang tersebut.

Namun, angka pasti dan cakupan detail kebijakan ini masih bisa bergeser sebelum pengumuman resmi keluar ke publik, menurut narasumber yang memahami rencana tersebut.

Mencegah Kekosongan Regulasi

Urgensi langkah ini sebenarnya terletak pada waktu. Kebijakan tarif sementara 10 persen yang sedang berlaku saat ini akan kedaluwarsa pada akhir pekan ini. Kalau administrasi Trump berhasil mengunci aturan baru tepat waktu, pemerintah bisa mempertahankan tekanan tarif tanpa jeda operasional.

Ini adalah taktik untuk menjaga kesinambungan kebijakan proteksionis yang diusung Trump sejak hari pertama menjabat.

Kondisi ini menciptakan dilema. Di satu sisi, Trump berkomitmen memulihkan kekuatan manufaktur Amerika dan melindungi industri domestik dari serbuan barang murah. Di sisi lain, masyarakat luas mulai cemas.

Harga barang kebutuhan sehari-hari berpotensi melonjak tajam, padahal pemilihan umum paruh waktu sudah di depan mata, yakni November mendatang. Kritikus pun terus bersuara bahwa pajak impor pada akhirnya hanya akan dibebankan kepada konsumen akhir lewat kenaikan harga di rak-rak toko.

Tensi perdagangan memang tidak main-main. Pemerintahan Trump sebelumnya sudah mengancam Kanada dengan tarif 50 persen, sementara produk asal Brasil dibayangi ancaman tarif 25 persen. Kini, daftar targetnya semakin panjang.

Berdasarkan proposal Kantor Perwakilan Dagang AS, negara-negara ekonomi besar seperti Meksiko, Uni Eropa, Taiwan, dan Kanada bakal terkena bea 10 persen. Beban lebih berat justru menanti Tiongkok, India, serta Jepang, dengan proyeksi tarif mencapai 12,5 persen.

Proses Hukum yang Berjalan

Jamieson Greer selaku Perwakilan Dagang AS memberikan sinyal kuat. Menurutnya, implementasi investigasi mengenai ketenagakerjaan paksa sudah mendekati tahap akhir. Meski begitu, Greer belum mau membocorkan jadwal detail kapan tepatnya setiap negara akan merasakan dampak kebijakan tersebut secara penuh.

Perlu dipahami, tidak semua rencana tarif akan keluar sekaligus. Investigasi terpisah yang menyasar kapasitas produksi berlebih dipastikan tidak akan melahirkan tarif baru pada Jumat ini. Proses hukumnya masih cukup panjang. Pemerintah masih harus membuka ruang bagi komentar formal serta serangkaian dengar pendapat publik sebelum tarif tersebut bisa sah secara hukum.

Artinya, penerapan tarif darurat secara komprehensif tetap membutuhkan waktu tambahan di masa depan. Pemerintah AS harus melewati prosedur birokrasi dan legalitas yang cukup ketat agar kebijakan tersebut tidak mudah digugat di pengadilan. Untuk saat ini, fokus Gedung Putih tetap pada bagaimana menjaga tekanan dagang tetap menempel pada mitra-mitra strategisnya sebelum hari Jumat tiba.

Para pelaku pasar kini menanti dengan napas tertahan. Setiap pergeseran angka tarif bisa memicu gejolak pada rantai pasok global yang sudah rapuh. Sementara itu, di Washington, tim ekonomi Trump terus mematangkan draf terakhir sebelum Presiden menekan tombol ‘go’ pada pengumuman yang dijadwalkan akhir pekan ini.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda