JAKARTA — Sudaryono resmi dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menggantikan Nanik S Deyang yang mundur karena alasan kesehatan. Namun, perbandingan kekayaan keduanya terungkap dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) — dan selisihnya mencolok.
Kepala BGN baru itu mencatat harta senilai Rp31 miliar, sementara pendahulunya hanya Rp6,3 miliar. Artinya, Sudaryono lebih kaya hampir lima kali lipat dari Nanik S Deyang berdasarkan dokumen resmi pemerintah.
Pelantikan dan Beban Besar
Presiden Prabowo Subianto secara langsung melantik Sudaryono pada Rabu 22 Juli 2026 di Istana Negara. Pengangkatan itu ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 78/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala Badan Gizi Nasional.
Usai dilantik, Sudaryono menekankan tanggung jawab yang kini dipikulnya. “Ini suatu amanah besar karena memang program makan bergizi gratis ini adalah program besar, grande, dan satu di antara program prioritas pemerintahan Bapak Prabowo Subianto dan Pak Gibran Rakabuming Raka,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu komitmen utama pemerintahan Prabowo-Gibran. BGN, sebagai lembaga pelaksana, memiliki peran krusial dalam mewujudkannya.
Portofolio Sudaryono: Aset Properti Dominan
Menurut LHKPN, kekayaan Sudaryono tersebar di berbagai pos. Komponennya adalah aset tanah dan bangunan senilai Rp69 miliar (terbesar), kas Rp13 miliar, surat berharga Rp7,6 miliar, serta alat transportasi dan mesin Rp1 miliar.
Namun, ada sisi sebaliknya. Sudaryono juga menanggung utang sebesar Rp60,3 miliar. Setelah dikurangi utang, total kekayaan bersihnya tercatat Rp31 miliar dalam laporan tersebut.
Sebelum memimpin BGN, Sudaryono menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), posisi yang tentu saja berpengaruh terhadap komposisi asetnya.
Harta Nanik S Deyang: Mayoritas Tanah dan Bangunan
Nanik S Deyang, yang mengundurkan diri untuk fokus pada kesehatan, menyerahkan LHKPN terakhirnya pada 17 Januari 2025. Saat itu dirinya masih menjabat sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.
Dari laporan itu, total harta Nanik adalah Rp6,3 miliar. Mayoritas, yakni Rp5,4 miliar, bersumber dari tanah dan bangunan. Selain itu, ada alat transportasi dan mesin senilai Rp705 juta, serta kas Rp195 juta.
Tidak ada catatan utang di LHKPN Nanik, sehingga seluruh harta terdaftar adalah harta bersih.
Konteks dan Alasan Mundur
Presiden Prabowo menerima permintaan pengunduran diri Nanik karena prihatin dengan kondisi kesehatannya. Meski demikian, Nanik diminta tetap memantau jalannya BGN sebagai bentuk komitmen pada program tersebut.
Pergantian pimpinan di lembaga yang menjalankan program sosial besar semacam BGN memang menuntut pemimpin dengan energi penuh dan komitmen kuat. Sudaryono, dengan latar belakang Wamentan, dilihat memiliki pengalaman yang sesuai untuk memimpin transisi dan implementasi program makan bergizi gratis yang menjadi fokus pemerintah saat ini.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.