LIMA — Keiko Fujimori resmi memimpin Peru pada Selasa dengan janji memperkuat keamanan dan mendorong investasi, saat negara itu berada di persimpangan kepentingan Amerika Serikat dan China. Pelantikan itu menandai kembalinya gerakan politik Fujimorism ke tampuk kekuasaan setelah lebih dari seperempat abad.
Taruhannya besar. Di dalam negeri, pemerintah anyar ini diwarisi polarisasi sosial, lonjakan kriminalitas, dan kebutuhan mendesak untuk membenahi layanan dasar. Di luar negeri, Peru kini dipandang sebagai salah satu arena penting dalam perebutan pengaruh Washington dan Beijing di Amerika Selatan.
Keamanan jadi prioritas awal Keiko Fujimori
Keiko Fujimori sudah memberi sinyal bahwa keamanan akan menjadi fokus utama pemerintahannya. Rencana yang disiapkan mencakup pengawasan video yang lebih luas, kehadiran polisi yang lebih kuat, hukuman yang lebih keras untuk kejahatan dan geng terorganisir, serta pusat komando dan kendali di seluruh negeri.
Bagian dari kebijakan keras itu adalah pembangunan empat penjara raksasa, mirip yang ada di El Salvador. Namun, langkah tersebut memunculkan kekhawatiran dari kalangan akademisi soal dampaknya terhadap hak asasi manusia.
Eliana Carlin, pakar ilmu politik di Pontifical Catholic University of Peru di Lima, menilai ada risiko besar di balik agenda itu. Ia mengatakan, “Behind [these measures] lie strong ideological positions intended to justify making the police and the armed forces solely subject to military jurisdiction,” katanya.
Keprihatinan Carlin muncul karena pemerintah juga membawa agenda yang sangat tegas dalam penegakan hukum. Dalam praktiknya, arah kebijakan seperti ini bisa mengubah cara negara menangani kriminalitas, tetapi sekaligus memicu perdebatan tentang batas kewenangan aparat.
Infrastruktur, teknologi, dan dana yang belum pasti
Di samping keamanan, Fujimori mengatakan akan mendorong proyek infrastruktur, menarik investasi swasta, membangun sekolah dan rumah sakit baru, serta memodernisasi negara dengan bantuan teknologi dan kecerdasan buatan. Janji itu terdengar besar, tetapi pembiayaannya belum tentu mudah.
Bahan sumber menyebut infrastruktur dan layanan esensial masih menghadapi defisit yang signifikan. Di saat yang sama, Peru juga dibayangi tingkat kejahatan yang meningkat dan ancaman penguatan pola cuaca El Nino, yang bisa membawa kekeringan, panas ekstrem, banjir, dan gangguan lain terkait iklim.
Di sinilah ujian pemerintahan Fujimori jadi terasa langsung. Tanpa dana yang cukup, target membangun sekolah, rumah sakit, dan proyek fisik akan tersendat. Bagi warga, artinya bukan sekadar janji politik yang tertunda, melainkan layanan publik yang tetap lambat membaik sementara tekanan ekonomi, kriminalitas, dan cuaca ekstrem terus menekan.
Pelabuhan Chancay ubah posisi Peru
Faktor lain yang membuat masa jabatan Fujimori menjadi penting adalah pelabuhan dan pusat logistik Chancay. Proyek senilai sekitar $3.5 billion itu bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan China dan telah mengangkat Peru menjadi pemain strategis dalam perdagangan regional.
Jika beroperasi penuh, pelabuhan itu diperkirakan memangkas waktu pengiriman antara Peru dan China dari sekitar 40 hari menjadi sekitar 23 hari. Chancay pun diproyeksikan menjadi gerbang baru ke Asia, bukan hanya bagi Peru, tetapi juga bagi negara-negara tetangga di Amerika Selatan.
Menurut angka resmi yang dikutip bahan sumber, perdagangan bilateral China-Peru melampaui $40 billion pada 2024. Amerika Serikat menyusul di posisi kedua dengan hampir $25 billion. Selisih ini menjelaskan kenapa pemerintah Peru sulit berpaling dari Beijing, meski Fujimori ingin mempererat hubungan dengan Washington.
Michael Shifter, dosen tamu di Georgetown University yang mengajar politik Amerika Latin, mengatakan persaingan dua kekuatan itu sangat nyata di Peru. “Beijing has played a very important role in the Peruvian economy for many years, while at the same time the US is seeking to expand its influence. Nowhere is the competition between Beijing and Washington as evident as in Peru,” katanya kepada DW.
Shifter menilai pelabuhan Chancay akan penting bagi Peru dan kawasan sekitarnya karena menurunkan biaya transportasi dan memperlancar perdagangan ke Asia, terutama China. Ia juga menyebut proyek itu punya potensi besar bagi masa depan ekonomi Amerika Selatan.
Chancay sendiri dirancang menjadi bagian dari koridor bioceanic antara Brasil dan Peru, yang akan dihubungkan lewat proyek rel dan jalan ke Samudra Atlantik. Jalur ini diharapkan memudahkan ekspor produk dari seluruh Amerika Selatan ke Asia.
Di jalur diplomasi, Fujimori juga menyatakan akan memperluas kerja sama dengan Amerika Serikat, terutama dalam keamanan dan perang melawan kejahatan terorganisir. Untuk menjaga hubungan dengan Gedung Putih, partisipasi Peru dalam aliansi “Shield of the Americas” juga dinilai penting.
Aliansi yang diinisiasi Donald Trump itu sudah diikuti beberapa pemerintah sayap kanan di Argentina, Chile, Ekuador, dan El Salvador. Bagi Peru, langkah bergabung bisa menjadi sinyal kedekatan dengan Washington, namun tanpa memutus hubungan ekonomi yang selama ini sudah terlanjur dalam dengan China.
Carlin memperkirakan arah kebijakan luar negeri Peru akan bergeser ke posisi yang lebih keras. Tapi ruang manuvernya tetap sempit. Beijing masih terlalu penting bagi ekonomi Peru, sementara Chancay sudah mendapat dukungan luas di dalam negeri.
Di titik ini, pemerintahan Fujimori bukan cuma diuji oleh kriminalitas di jalanan atau kebutuhan anggaran di dalam negeri. Nasib Peru juga akan ditentukan oleh seberapa jauh Lima mampu berdiri di antara dua raksasa yang sama-sama tak mau kehilangan pengaruh di Amerika Selatan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.