CHINA SELATAN — jus kaki cosplayer jadi bahan obrolan setelah sebuah konvensi anime di China selatan mengusir beberapa peserta yang mencelupkan kaki telanjang ke air lalu menjualnya sebagai “feet juice”. Aksi itu justru mengundang kerumunan besar penonton yang penasaran melihat, dan sebagian tampak ingin membeli.
Peristiwa ini dilaporkan Fengmang News dari Firefly Comic Convention. Bahan sumber tidak merinci siapa para cosplayer itu, tetapi menyebut panitia mengambil langkah tegas setelah aksi tersebut menarik perhatian berlebihan di area acara.
Jus kaki cosplayer dan efek kerumunan yang tak disangka
Yang membuat kejadian ini cepat menyebar bukan cuma aksinya, melainkan reaksinya. Di tengah suasana konvensi yang biasanya dipenuhi kostum, foto, dan pertemuan antar-penggemar, penjualan “jus kaki” justru menciptakan tontonan baru. Orang-orang berkerumun, melihat dari dekat, lalu perbincangan soal batas wajar dalam acara fandom langsung menguat.
Bahan sumber tidak menyebut ada korban atau insiden fisik lain. Tapi tindakan itu jelas menabrak rasa nyaman banyak pengunjung. Dalam ruang publik yang semestinya fokus pada cosplay dan pertemuan komunitas, atraksi seperti ini mudah berubah jadi gangguan. Panitia pun memilih mengeluarkan beberapa cosplayer yang terlibat.
Mirip stunt di Amerika Serikat pada Mei
Aksi di China selatan itu bukan yang pertama. Bahan sumber menyebut, pada sebuah acara anime di Amerika Serikat pada Mei, sejumlah peserta juga menjual “feet juice” dengan harga US$10-30 per cup. Stunt itu memicu kontroversi luas dan perdebatan panas di berbagai negara.
Kemiripan dua peristiwa ini penting karena menunjukkan pola yang sama: sesuatu yang dimulai sebagai lelucon atau gimmick bisa langsung memancing respons keras ketika dibawa ke ruang publik. Di acara budaya pop, pengunjung datang untuk hiburan. Saat batas itu dilanggar, perhatian bergeser dari kostum dan kreativitas ke perilaku yang dianggap aneh, bahkan menjijikkan oleh sebagian orang.
Apa dampaknya buat acara cosplay
Bagi penyelenggara, kasus seperti ini memberi sinyal yang cukup jelas. Mereka tak cuma harus mengurus panggung, stan, dan arus pengunjung, tapi juga menjaga agar aksi individu tidak merusak suasana acara. Sekali sebuah gimmick liar viral, reputasi acara bisa ikut terseret. Pengunjung datang dengan ekspektasi tertentu, dan saat mereka menemukan atraksi semacam itu, kenyamanan bisa langsung turun.
Untuk komunitas cosplay sendiri, kejadian ini ikut menambah tekanan soal etika tampil di ruang publik. Cosplay selama ini dikenal sebagai ekspresi kreatif yang hidup dari karakter, kostum, dan interaksi antar-fans. Ketika ada peserta yang memilih aksi ekstrem demi atensi, sorotan bergeser dari karya ke kontroversi. Itu merugikan banyak orang yang datang dengan niat berbeda.
Bahan sumber juga menegaskan bahwa aksi di China selatan itu langsung dikaitkan dengan stunt serupa di Amerika Serikat. Artinya, isu ini bukan sekadar kejadian lokal. Ia sudah masuk ke obrolan yang lebih luas tentang bagaimana acara anime dan budaya pop kerap jadi panggung eksperimen perilaku yang memancing reaksi publik.
Fengmang News menjadi sumber utama laporan ini, sementara bahan sumber menunjukkan bahwa panitia Firefly Comic Convention sudah mengambil langkah dengan mengusir beberapa cosplayer. Hingga laporan itu disusun, yang tersisa justru pertanyaan tentang sejauh mana penyelenggara akan memperketat aturan supaya insiden serupa tak kembali muncul di panggung konvensi berikutnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.