SURABAYA — Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono mengingatkan bahwa kecepatan respons penyelamatan terhadap korban kebakaran kapal sangat krusial. Musibah KMP Mutiara Sentosa 2 minggu lalu menunjukkan betapa pentingnya sistem darurat yang responsif untuk meminimalkan korban jiwa.
“Yang menjadi perhatian adalah waktu tanggap penyelamatan harus jauh lebih cepat. Jangan sampai korban yang sudah berhasil menyelamatkan diri di laut justru terlambat mendapatkan pertolongan,” ujar BHS di Surabaya, Senin.
Legislator itu mengacu pada insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 yang terjadi Minggu (2/8) sekitar pukul 06.00–07.00 WIB di perairan utara Sumenep, Jawa Timur. Kapal penumpang rute Surabaya-Makassar itu mengalami kebakaran yang berhasil dievakuasi bersama 232 penumpang dan pengguna jasa. Namun, lima orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Target 30 Menit Seperti Filipina
Soekartono menunjukkan contoh standar dari Filipina, di mana operasi penyelamatan laut ditargetkan tidak lebih dari 30 menit sejak alarm diterima. Standar serupa menurutnya layak diterapkan di Indonesia untuk meningkatkan efektivitas penanganan kecelakaan pelayaran.
“Dengan target waktu yang jelas dan terukur, tim penyelamat dapat bekerja lebih terstruktur dan terkoordinasi,” katanya.
Apresiasi Soekartono diberikan kepada awak kapal KMP Mutiara Sentosa 2 yang telah menjalankan prosedur keselamatan dengan baik—membagikan jaket pelampung kepada penumpang dan menyiapkan life craft untuk evakuasi darurat. Namun, upaya tersebut perlu diimbangi respons cepat dari tim penyelamat di darat maupun di laut.
Optimalisasi Sarana Penyelamatan Mendesak
Legislator itu juga menyoroti perlunya optimalisasi seluruh sarana penyelamatan yang ada. Helikopter milik Basarnas, misalnya, perlu dimaksimalkan penggunaannya apabila kondisi di lapangan memungkinkan agar proses pencarian dan evakuasi korban dapat berlangsung lebih cepat.
Keterlambatan pertolongan, menurut Soekartono, berpotensi meningkatkan risiko bagi korban yang berada di atas rakit penolong. Mereka menghadapi ancaman hanyut, kelelahan, dehidrasi, hingga kehilangan nyawa.
“Setiap detik sangat berharga ketika penumpang sudah berada di tengah laut. Sistem koordinasi antara kapal penyapu, helikopter, dan pos pantai harus berjalan sinergis tanpa hambatan birokrasi,” tambah politikus dari Jawa Timur itu.
Soekartono meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem respons darurat kecelakaan laut. Tujuannya agar koordinasi dan kecepatan penyelamatan terus ditingkatkan untuk meminimalkan jumlah korban pada setiap insiden pelayaran ke depannya.
Data sementara menunjukkan total korban yang berhasil dievakuasi dari KMP Mutiara Sentosa 2 sebanyak 232 orang, terdiri atas 227 selamat dan lima meninggal dunia (per Minggu pukul 18.00 WIB).

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.