Selasa, 4 Agustus 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Ancaman Serangan Iran dari Trump Dinilai Hampir Mentok

Ancaman Serangan Iran dari Trump Dinilai Hampir Mentok
Ancaman Serangan Iran dari Trump Dinilai Hampir Mentok

WASHINGTON — ancaman serangan Iran dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai sudah mendekati batas. James Jeffrey, mantan Duta Besar AS untuk Irak dan Turki, mengatakan Washington makin dekat ke titik ketika ancaman militer yang diulang terus tanpa langkah nyata justru kehilangan daya tekan.

Jeffrey menyampaikan pandangan itu saat berbicara dengan Joe Mathieu dan Kailey Leinz dalam edisi malam Bloomberg Balance of Power. Ia melihat pola ultimatum yang disampaikan Gedung Putih terhadap Teheran mulai berjalan di tempat, sementara perundingan AS-Iran tetap dibayangi bantahan dari pihak Iran.

Jeffrey: ancaman serangan Iran mulai habis tenaga

Dalam penjelasannya, Jeffrey, yang kini menjadi Distinguished Fellow di Washington Institute for Near East Policy, menyebut Washington berada di “end of the tether” atau ujung batas sabar jika terus mengancam aksi militer tanpa benar-benar mengeksekusinya. Istilah itu menggambarkan situasi ketika tekanan yang dipakai berulang kali mulai kehilangan efek.

Jeffrey bukan orang baru dalam urusan ini. Ia pernah menjabat sebagai Special Representative for Syria Engagement dan bertugas pada masa jabatan pertama Trump. Karena itu, peringatannya punya bobot politik sekaligus diplomatik. Ia membaca bahwa pesan keras dari Washington akan makin sulit dipercaya jika tidak disertai tindak lanjut yang konsisten.

Di saat yang sama, Trump justru kembali mengirim sinyal keras. Dalam pernyataan yang dilaporkan The Guardian dan South China Morning Post, ia menyebut Iran mendapat “last chance” untuk mencapai kesepakatan. Ia juga menyinggung pembukaan Selat Hormuz bisa terjadi cepat, bahkan “literally by tomorrow”, meski Iran membantah ada pembicaraan langsung dengan AS.

Selat Hormuz jadi kartu tekan utama

Selat Hormuz muncul sebagai titik paling sensitif dalam manuver terbaru Washington. Trump menyatakan fase pertama dari langkah yang ia dorong adalah pembukaan selat itu. Setelah itu, menurut dia, tahap berikutnya adalah denuklirisasi. Ia juga mengatakan tidak akan membiarkan Iran mengenakan biaya tambahan bagi kapal yang melintas.

Pernyataan itu penting karena Selat Hormuz adalah jalur pelayaran yang selalu jadi pusat ketegangan ketika hubungan AS dan Iran memanas. Saat jalur ini ikut dibawa ke meja politik, efeknya tidak berhenti di level diplomasi. Ketidakpastian bisa merembet ke pelayaran, keamanan maritim, dan kalkulasi harga energi di pasar yang memantau kawasan Teluk dengan sangat dekat.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda