NEW DELHI — Pidato Sheikh Hasina di New Delhi membuat hubungan India dan Bangladesh kembali diuji. Dhaka sudah memperingatkan Delhi bahwa memberi panggung politik kepada mantan pemimpin Bangladesh itu bisa merusak perbaikan hubungan kedua negara.
India, lewat Kementerian Luar Negeri, menegaskan tidak punya keterlibatan apa pun dalam acara yang dijadwalkan berlangsung secara daring itu. Pernyataan ini penting karena posisi New Delhi kini berada di tengah tarik-menarik diplomatik yang sensitif: menjaga hubungan dengan Bangladesh, tetapi juga menjelaskan batas peran pemerintah dalam forum yang diinisiasi pihak swasta.
India menolak dianggap ikut campur
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, mengatakan, “The interaction is being organised by a private media entity. The government has no involvement whatsoever in it, neither does it endorse any views that may be expressed at the forum.”
Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan saat India merespons keberatan Bangladesh atas rencana pidato Hasina. Jaiswal tidak menanggapi langsung keberatan spesifik Dhaka yang menilai Hasina seharusnya tidak melakukan aktivitas politik dari tanah India.
Acara tersebut digelar oleh Foreign Correspondents’ Club of South Asia dan diberi nama “Sheikh Hasina’s Homecoming.” Pidatonya akan disiarkan langsung, tetapi disampaikan dari jarak jauh.
Bagi Bangladesh, isu ini bukan sekadar acara diskusi. Hasina kini berada di India setelah digulingkan lewat protes yang dipimpin mahasiswa pada Agustus 2024. Dhaka memandang setiap ruang publik bagi Hasina berpotensi dibaca sebagai dukungan politik, apalagi di tengah proses hukum yang masih membelitnya.
Posisi Hasina masih memicu gesekan
Dalam bahan DW, Hasina disebut telah berjanji akan kembali ke Bangladesh pada Desember 2026. Janji itu muncul meski Bangladesh menjatuhkan hukuman mati kepadanya pada Oktober lalu, disusul sejumlah kasus hukum lain.
Situasi ini membuat setiap pernyataan atau penampilan publik Hasina menjadi sensitif. India memang menegaskan acara itu bukan kegiatan pemerintah, tetapi di mata Bangladesh, lokasi dan platform yang dipakai tetap menyentuh ranah politik luar negeri. Titiknya jelas. Kepercayaan bilateral mudah goyah saat simbol yang dipakai dianggap terlalu dekat dengan kepentingan salah satu pihak.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.