Selasa, 4 Agustus 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

23 Negara Bagian Demokrat Minta MA Tahan Batas Suara Lewat Pos

23 Negara Bagian Demokrat Minta MA Tahan Batas Suara Lewat Pos
23 Negara Bagian Demokrat Minta MA Tahan Batas Suara Lewat Pos

WASHINGTON — California dan 22 negara bagian yang dikuasai Demokrat meminta Mahkamah Agung Amerika Serikat memblokir rencana Presiden Donald Trump membatasi suara lewat pos melalui U.S. Postal Service.

Permintaan itu diajukan pada Senin, saat tahun pemilu sudah berjalan dan sengketa soal aturan baru ini makin dekat ke hari pemungutan suara. Para penggugat menilai penerapan aturan baru sekarang berisiko memicu kekeliruan dan membuat pemilih sah tersisih dari surat suara.

Aturan baru dinilai terlalu mepet

Dalam permohonan mereka ke hakim agung, California dan 22 negara bagian lain menyebut sudah terlalu terlambat di tahun pemilu untuk menaruh set aturan baru bagi surat suara lewat pos. Mereka mengingatkan bahwa perubahan mendadak bisa membuat pemilih yang terdaftar justru diberi tahu bahwa nama mereka tidak ada dalam daftar federal yang disetujui.

“Because of the high risk of errors and the limited window for correcting mistakes, many of the millions of voters who rely on mail voting — especially voters with disabilities and those in rural areas — would likely be denied mail ballots and disenfranchised,” kata mereka kepada pengadilan.

Para negara bagian itu juga menekankan bahwa Konstitusi menyerahkan aturan pemilu federal kepada negara bagian dan Kongres, bukan kepada presiden. Dari sisi mereka, rencana Gedung Putih melangkahi kewenangan yang selama ini dimiliki negara bagian untuk mengatur registrasi pemilih.

Trump dorong pembatasan lewat pos

Trump bersikeras suara lewat pos rawan kecurangan, termasuk dugaan bahwa nonwarga negara bisa ikut memilih. Kongres, menurut bahan perkara itu, menolak menyetujui pembatasan baru yang dia minta. Karena itu, Trump menerbitkan perintah eksekutif pada 31 Maret untuk melibatkan U.S.

Postal Service dan Department of Homeland Security dalam memastikan “citizenship verification and integrity in federal elections”.

Perintah itu meminta Homeland Security menyusun daftar warga negara per negara bagian yang berhak memilih. USPS lalu diminta memakai daftar itu untuk membatasi siapa yang boleh mengirim surat suara lewat pos. Dalam redaksi perintahnya, USPS disebut tidak boleh meneruskan mail-in atau absentee ballots dari siapa pun yang belum masuk daftar spesifik negara bagian.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda