Jumat, 7 Agustus 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

ESG Award 2026 by KEHATI Dorong ESG Jadi Standar Baru Daya Saing Bisnis

ESG Award 2026 by KEHATI Dorong ESG Jadi Standar Baru Daya Saing Bisnis
ESG Award 2026 by KEHATI Dorong ESG Jadi Standar Baru Daya Saing Bisnis

JAKARTA — Prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) kini bertransformasi dari sekadar pilihan strategi menjadi fondasi utama dalam menjaga daya saing korporasi.

Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) melalui ajang ESG Award 2026 menegaskan bahwa penerapan tata kelola berkelanjutan adalah kunci utama untuk menarik investasi jangka panjang sekaligus mitigasi risiko bisnis yang kian kompleks.

Pergeseran paradigma ini muncul karena tuntutan global yang semakin ketat terhadap praktik bisnis ramah lingkungan dan bertanggung jawab sosial. Bagi pelaku usaha, kepatuhan terhadap standar ESG bukan lagi soal memenuhi kewajiban regulasi, melainkan cara untuk meningkatkan nilai perusahaan di mata investor maupun mitra dagang internasional.

Sinergi Standar Mutu dalam Ekosistem Bisnis

Pentingnya standar operasional yang terukur juga tercermin dalam upaya pengembangan pusat ekspor nasional. Bali, sebagai hub strategis, kini memperkuat posisinya melalui pemanfaatan jenama dan standarisasi mutu untuk produk dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa hingga Papua.

Gubernur Bali, Wayan Koster, menyatakan bahwa Bali memiliki keunggulan kompetitif berupa akses penerbangan internasional yang masif.

Data pengelola bandara mencatat, hingga 12 Juli 2026, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai melayani 42 rute internasional dengan dukungan 43 maskapai nasional maupun internasional. Konektivitas ini menjadi urat nadi pengangkutan kargo ekspor dari berbagai provinsi ke pasar global.

Implementasi standar mutu, baik itu dalam bentuk sertifikasi ekspor maupun penerapan prinsip ESG, menjadi jaminan kepercayaan bagi pasar internasional. Gubernur Koster menambahkan bahwa nama Bali memiliki daya tarik yang kuat, sehingga produk yang melalui pintu keluar Bali memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan standar kualitas yang terakreditasi.

Data dan Tantangan Sektor Ekspor

Di balik optimisme pengembangan hub ekspor, kinerja perdagangan luar negeri tetap menghadapi dinamika pasar yang fluktuatif. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, nilai ekspor barang Provinsi Bali pada periode Januari-Juni 2026 menyentuh angka 280,5 juta dolar AS.

Angka tersebut menunjukkan sedikit koreksi sebesar 0,88 persen jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun 2025, yakni 283 juta dolar AS. Kondisi ini mempertegas urgensi bagi pelaku usaha untuk segera mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dan standar mutu yang ketat agar mampu bertahan dan bersaing di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pemerintah daerah saat ini tengah mematangkan infrastruktur pendukung, termasuk rencana konstruksi zona inti Pusat Kebudayaan Bali yang dijadwalkan mulai tender pada akhir tahun 2026. Target penyelesaian konstruksi yang dipatok pada Desember 2027 diharapkan mampu menyediakan ruang pameran bertaraf internasional bagi produk-produk unggulan Indonesia yang telah memenuhi standar kelayakan global.

Ke depan, integrasi antara kesadaran korporasi terhadap praktik ESG dengan dukungan infrastruktur logistik yang efisien akan menentukan seberapa jauh produk Indonesia mampu menguasai pasar dunia. Perusahaan yang mampu mengawinkan efisiensi operasional dengan tanggung jawab lingkungan diprediksi akan menjadi pemenang dalam persaingan pasar di masa mendatang.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda